Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Alasan Mengapa Kita Harus Merawat Keresahan

Seperti Sore yang Resah Terhadap Kehidupan Jonathan Sebab Ia Tahu Ada yang Tak Beres di Dalamnya (Sumber: Cuplikan Film Sore: Istri Dari Masa Depan)

Tulisan ini berawal dari keresahanku, sewaktu aku mengobrol dengan seorang kawan yang juga dari persma. Kawan tersebut bilang ke aku dan kawan lainnya bahwa ia tidak menulis karena ia tidak mempunyai keresahan dan ia merasa kalau sebuah tulisan itu harus berawal dari sebuah keresahan. Aku pun juga demikian, tulisanku sebelumnya yang sudah terbit itu juga berawal dari keresahan. Ironisnya, tulisan ini justru lahir dari keresahanku karena seorang kawan mengaku tidak memiliki keresahan untuk ditulis.

Sebenarnya apa sih keresahan itu? Dan mengapa keresahan itu perlu dirawat? Dalam tulisan ini, keresahan yang kumaksud adalah kegelisahan yang lahir dari kesadaran. Berbeda dengan rasa takut atau rasa cemas yang sering muncul karena ancaman, keresahan lebih sering muncul karena seseorang berpikir, merenung, dan menyadari bahwa ada sesuatu yang “tidak beres”. Keresahan seperti itulah yang menurutku perlu dirawat. Bahwa dengan keresahan kita menjadi orang yang tidak berhenti bertanya tentang sekitar. Tak perlu jauh untuk memandang bahwa keresahan adalah sebuah hal yang besar seperti resah terhadap kelakuan pemerintah yang sungguh unik. Namun, lihatlah sekitar, amati sekitarmu. Tak mungkin kan bahwa segalanya baik-baik saja, pasti ada satu dua hal yang membuatmu resah. Pun jika segalanya memang baik-baik saja, bukankah sesekali kita tetap perlu bertanya, apakah semuanya sungguh baik-baik saja? Keresahan seperti itu yang seharusnya selalu ada pada diri kita, sebagai kompas kepada diri kita untuk mengetahui bahwa tidak semua hal baik-baik saja dan sudah sepatutnya kita menyisihkan energi kita untuk merespon keresahan-keresahan tersebut.

Entah mengapa keresahan sering kali dianggap musuh oleh kita. Kita enggan untuk menerima fakta bahwa di sekitar kita banyak yang membuat kita resah. Seperti membaca berita geo sosial politik Indonesia yang kian hari makin buruk, kita cenderung menyingkirkan fokus kita pada hal tersebut yang mana hal ini juga merupakan salah satu sumber keresahan. Hal tersebut terkadang memang bisa menimbulkan sesuatu yang negatif, rasa amarah kita ketika membaca berita-berita tersebut menjadi tidak terbendung dan kerap kali kelepasan memaki rezim di kolom komentar media berita tersebut. Tapi mari kita coba lihat dari sisi positifnya, jika kita tidak menempatkan keresahan kita pada hal-hal tersebut dan membiarkan jemari kita untuk cepat-cepat menggulir timeline berita tersebut, apa yang terjadi? 

Yang terjadi adalah berita-berita kebusukan rezim semacam itu akan dengan mudahnya tenggelam tanpa kita tahu. Pada artikel ini ditulis, ada kejadian yang menyedihkan bagi saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa dan di Kalimantan, Sulawesi, Papua serta Lombok yang terdampak kebakaran hutan. Bayangkan jika kita tidak resah dengan penanganan pemerintah yang busuk terhadap saudara kita di sana, bukankah mereka akan semakin semena-mena jika kita tidak sering memberi perhatian pada kejadian tersebut. Bahkan beberapa hari yang lalu, kita mungkin sudah terpapar berita menyebalkan dari Presiden Prabowo yang seharusnya pergi ke Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, NTT untuk peninjauan dampak gempa bumi dibatalkan demi menghadiri akad nikah kepala sekretariat pribadinya. Padahal, atensi masyarakat terhadap kejadian gempa dan kebakaran tersebut sangat tinggi, tetapi pemerintah tetap saja semena-mena.

Mari kita bawa lebih luas bayangan terhadap apatisme ketika kita tidak memiliki keresahan yang kita rawat. Kita bisa melihatnya dari lingkungan terdekat, mulai dari keluarga, pertemanan, hingga kampus. Ketika ada sesuatu yang tidak beres dalam lingkungan tersebut, dampaknya pun akan langsung kita rasakan. Ketika ada anggota keluarga kita yang ternyata pemain judi online, ketika di lingkup pertemanan ada seorang teman yang terjerat candu alkohol atau bahkan obat terlarang, bahkan ketika di lingkup kampus kita tidak diberi sarana dan prasarana yang layak sedangkan kita sudah membayar kewajiban Uang Kuliah Tunggal (UKT) kita. Dampak tersebut akan langsung kita rasakan, bahkan bisa semakin membara jika kita memilih untuk tetap tidak peduli, tidak mengambil sikap, dan tidak memberikan respon 

Kita perlu merawat keresahan, karena dari keresahan itu sering kali melahirkan pemikiran-pemikiran kritis. Dari situ kita dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya membangun. Kita jadi mempertanyakan apakah suatu hal itu sudah benar atau belum, kita jadi bisa mencari solusi yang tepat jika memang sesuatu yang kita resahkan adalah sebuah hal yang keliru. Bayangkan jika kita tidak memiliki sifat itu, akan seperti apa dunia jika masyarakatnya tidak memiliki keresahan? Nyaman memang, karena kita tidak perlu repot-repot memikirkan sesuatu yang besar. Tapi, bayaran dari kenyamanan itu adalah hidup kita yang ada di tengah marabahaya. Para penguasa akan semakin culas dan akan dengan mudahnya mereka membabat serta membakar hutan untuk mempertebal dompetnya. Akan semakin liar pula bentuk korupsi yang dilakukan oleh para pejabat, semakin semena-mena cara politisi melakukan kecurangan demi melanggengkan namanya, dan semakin tertindas rakyat kecil akibat kelakuan-kelakuan culas mereka.

Tentu kita sebagai manusia yang dapat menggunakan akal, pikiran, dan hati dengan baik tidak menginginkan itu. Sudah sepatutnya kita senantiasa merawat keresahan dengan sehat, dengan tidak acuh tak acuh pada sekitar serta mengolah sebuah pemikiran menjadi sebuah diskursus dan mencoba menerapkannya dalam tindakan tanpa melibatkan kecemasan dan kebencian. Karena keresahan adalah tanda bahwa kita masih hidup. Ia bukan beban yang harus dibuang, melainkan tanda bahwa hati dan pikiran kita masih peka terhadap diri sendiri, orang lain, dan dunia.

 

(Eka Wahyu Prasetyo)

 

Post View : 11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *