Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Dirt: Estetika dalam Keputusasaan

Album Dirt (Sumber: Wikipedia)

Judul Album: Dirt

Pencipta Album: Alice in Chains

Durasi: 57.37 Menit

Genre: Grunge, Alternative Metal, Heavy Metal, Hard Rock

Tahun Rilis: 1992

Bahasa: Inggris

Label: Columbia

 

Dirt dirilis pada September 1992, tepat di tengah ledakan demam Seattle di seluruh dunia.  Namun, berbeda dengan kegelisahan remaja yang dibawa oleh Nirvana atau kemegahan arena rock Pearl Jam, Alice in Chains masuk ke wilayah yang jauh lebih gelap. Album ini diciptakan  saat para personelnya, terutama vokalis Layne Staley yang sedang berjuang melawan ketergantungan narkoba. Ketegangan internal, pengalaman perang (seperti yang diceritakan Jerry  Cantrell melalui sosok ayahnya di lagu Rooster), dan rasa terasing dari dunia luar menjadi  bahan bakar utama. Album ini dibuat sebagai sebuah katarsis atau sebuah cara bagi mereka  untuk meneriakkan rasa sakit yang tidak bisa disampaikan lewat kata-kata biasa.

Kelebihan Album Dirt

Kelebihan utama Dirt terletak pada atmosfernya yang sangat pekat dan konsisten. Sulit  menemukan album lain yang mampu menyalurkan rasa sakit secara auditori seefektif ini. Secara vokal, dinamika antara Layne Staley dan Jerry Cantrell adalah jantung dari album ini. Harmoni vokal mereka terdengar seperti dua jiwa yang saling meratap. Suara Layne  memiliki kekuatan mentah yang mampu beralih dari gumaman rapuh menjadi jeritan yang  menyayat hati. Secara aransemen dan instrumen, Jerry Cantrell membuktikan dirinya sebagai maestro riff. Ia menggunakan penyetelan gitar half-step down dan drop D yang memberikan kesan beban berat pada setiap lagu. Ada penggunaan instrumen yang menarik seperti efek “wah-wah”, berupa efek yang menekankan frekuensi tertentu untuk menciptakan suara vokal manusia yang sedang mengucapkan “wah… wah…”.  Efek ini digunakan dengan cara yang tidak biasa, pada album ini efek itu memberikan kesan sludge yang sangat eksperimental untuk ukuran band grunge pada masa saat itu. Pada penulisannya, Layne Staley dan Jerry Cantrell menulis dengan sangat jujur, tidak ada eufemisme di sini. Lagu-lagu seperti Junkhead atau God Smack berbicara langsung tentang realitas penggunaan heroin tanpa mencoba memperindahnya. Kejujuran ini memberikan nilai otentisitas yang jarang ditemukan.

Kekurangan Album Dirt

Meskipun dianggap sebagai mahakarya, Dirt bukanlah album yang bisa dinikmati dalam segala suasana. Secara kohesif album Dirt memiliki suara yang terlalu monoton. Bagi pendengar kasual, tempo album yang cenderung lambat dan tema yang terus-menerus depresif, bisa terasa melelahkan secara mental. Hampir tidak ada cahaya atau momen optimis di sepanjang album ini, sehingga bagi sebagian orang, kohesif temanya yang sangat kuat justru menjadi pedang bermata dua yang membuat album terasa membosankan di pertengahan. Secara produksi, suara mereka di album ini sangat mencerminkan awal tahun 90-an. Meskipun memberikan kesan nostalgia, bagi telinga modern, beberapa bagian instrumen mungkin terasa dulu dan kurang dinamis dibandingkan produksi musik masa kini. 

Kesimpulan 

Dirt adalah sebuah pengingat bahwa seni yang paling berpengaruh sering kali datang dari tempat  yang paling menyakitkan. Ini adalah album yang wajib didengar, dikarenakan album ini adalah kisah nyata band yang pahit.

Daftar Lagu

No.

Judul

Durasi

1.

Them Bones

2.30

2.

Dam That River

3.09

3.

Rain When I Die

6.01

4.

Down in a Hole

5.38

5.

Sickman

5.29

6.

Rooster

6.15

7.

Junkhead

5.09

8.

Dirt

5.16

9.

God Smack

3.56

10.

Untitled

0.43

11.

Hate to Feel

5.15

12

Angry Chair

4.48

13.

Would?

3.28

 

(R. Adityo Nugroho)

 

Post View : 8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *