Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

EMCE 2026: Pameran Budaya Global Polinema

(perwakilan kelompok memberikan pidato, sumber: Nayla Oktaviani)

Suasana di Graha Theater POLINEMA mendadak berubah menjadi pameran budaya internasional yang cukup meriah pada tanggal 10 Juni 2026. Mahasiswa tingkat satu prodi BIKBP (Bahasa Inggris untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional) tengah menyelenggarakan pameran budaya bernama EMCE (English Multi Cultural Exhibition) yang bertemakan “Let’s Come and Go Around the World in Just One Day!”. Aulia Nourma Putri atau yang lebih akrab disapa Ma’am Lala, selaku dosen pembina mengatakan bahwa EMCE merupakan kegiatan implementasi dari project-based berbasis CDIO (Conceive, Design, Implement, and Operate) dari mata kuliah Intercultural Business Communication dan Speaking for Business Communication. Pameran ini bertujuan sebagai wadah bagi para mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan ide kreatif mereka dari nol.

Pameran ini terdiri dari 16 kelompok yang membawakan negara-negara dari seluruh benua. Para mahasiswa akan mengenakan pakaian khas (cosplay) dari masing-masing negara, serta menyajikan makanan dan minuman. Tidak hanya itu, mereka harus mendekorasi booth mereka semenarik mungkin. Dekorasi-dekorasi yang dibuat sangatlah beragam. Selain itu, di beberapa booth juga menyediakan atraksi interaktif yang seru seperti photo booth dan stiker gratis untuk memikat para pengunjung yang berkunjung ke booth mereka.

(tampilan booth Thailand, sumber: Nayla Oktaviani)

Tak kalah menarik dari dekorasi, kostum yang dikenakan oleh para mahasiswa juga cukup mencolok dan berhasil mencuri perhatian pengunjung. Kostum-kostum yang dikenakan tidak hanya menyewa, tetapi mereka juga membuat kostum DIY (Do It by Yourself). Kostum yang mereka kenakan cukup beragam, mulai dari gaun, rompi, baret, dan masih banyak lagi. Beberapa dari mereka melakukan cosplay seorang tokoh terkenal atau sebuah karya seni seperti patung dan lukisan. Makanan dan minuman dijual dengan harga yang cukup terjangkau sehingga para pengunjung tidak perlu khawatir harga tinggi.

Persiapan untuk pameran kebudayaan ini tentunya tidak mudah serta menguras dompet dan tenaga. Salah seorang mahasiswa, Elvina Putri, membagikan kisahnya bersama kelompok saat mempersiapkan booth negara Brasil. Ia mengatakan bahwa mereka mempersiapkan segalanya untuk pameran dalam kurun waktu kurang lebih selama satu bulan adalah hal yang menantang karena mereka harus mempersiapkan segalanya secara bersamaan. “Karena kan kita dikasih waktu kurang lebih sebulan ya, itu masih belum cukup, sepertinya kurang karena dari kita sendiri itu banyak banget yang harus dipersiapkan, dan booth-nya itu bukan booth yang cuman nyiapin makanan atau nyiapin sesuatu kan kita harus mengkreasikan sendiri”, ujar Elvina. 

(booth Brasil yang diserbu pembeli, sumber: Nayla Oktaviani) 

Kerja keras itu membuahkan hasil yang manis saat hari-H. Elvina mengaku terpukau dengan kreativitas teman-teman prodinya dalam mendekor booth secara megah meskipun dengan biaya yang minimum. Mereka menggunakan bahan-bahan sederhana seperti kardus dan stirofoam yang mereka ubah menjadi maket tiga dimensi. Di sisi lain, kelompok Elvina sendiri memilih jalan yang berbeda untuk stan negara Brasil mereka demi efisiensi anggaran dan mengurangi sampah pasca-acara. Mereka mengusung konsep hutan hijau yang dilengkapi cermin estetik untuk mirror selfie, serta lebih menonjolkan kualitas hidangan khas Brasil. Selain itu, para mahasiswa harus mengasah kemampuan bicara mereka ketika juri mengunjungi booth dan bertanya mengenai budaya yang mereka tampilkan. Bagi Elvina, hal tersebut bukanlah suatu masalah baginya. Ia tidak merasa takut atau gugup, sebaliknya ia merasa senang dan enjoy ketika berkomunikasi dengan para dosen dan juga para pengunjung yang hadir.

Tantangan serupa juga dirasakan oleh Rania Shauqia, perwakilan dari kelompok Jepang. Baginya, momen yang paling menantang ketika ia harus kejar-kejaran menyelesaikan persiapan kelompoknya bersamaan dengan tugasnya sebagai panitia acara. Meskipun begitu, ia mengaku tetap santai tanpa rasa takut atau gugup.

Pameran ini bukan sekedar pameran biasa, namun ada beberapa nominasi yang bisa didapatkan oleh tiap-tiap negara. Nominasi ini di antaranya Best Costume, Best Booth, Best Performance, dan The Best of The Best nomination. Demi memenangkan nominasi tersebut, para mahasiswa mengerahkan seluruh kreativitas dan usaha terbaik mereka.Suasana kompetitif antar kelompok bisa dirasakan selama acara berlangsung, terutama saat peragaan busana. Masing-masing perwakilan menampilkan performa terbaik di atas panggung dan membawakan pidato singkat berbahasa Inggris di hadapan dewan juri serta tamu undangan. Sementara itu, mahasiswa berlomba-lomba merebut perhatian pengunjung selama kunjungan booth guna mendapatkan suara terbanyak untuk nominasi best booth.

(sudut pameran budaya EMCE 2026, sumber: Nayla Oktaviani)

Pihak juri sempat mengalami dilema dalam menentukan pemenang nominasi best booth dan best performance karena seluruh peserta tampil sangat kreatif dan interaktif. Ma’am Lala selaku juri menuturkan, “budaya yang ditampilkan saat performance juga sangat beragam, tidak hanya dancing ataupun roleplay saja. Kostumnya bahkan ada yang sampai diy membuat kepala gajah.”. Beliau mengaku sangat puas dengan suksesnya EMCE 2026 yang menghadirkan 16 negara serta takjub melihat kreativitas mahasiswa dalam merepresentasikan budaya mereka.

Di penghujung acara, MC membacakan pemenang nominasi. Momen ini diselimuti rasa haru dan bangga dari seluruh mahasiswa. Meskipun persaingan memperebutkan nominasi berlangsung ketat, tetapi solidaritas antar mahasiswa tetap terjaga. Rania mengungkapkan rasa bahagianya meskipun kelompok Jepang belum berhasil membawa pulang juara. “Saya sangat senang meskipun bukan kelompok saya, tapi saya tahu perjuangan kelompok pemenang,” ungkap Rania. Lebih dari sekadar mengejar juara, EMCE 2026 meninggalkan kesan tersendiri bagi para mahasiswa. Elvina menyebutkan bahwa EMCE merupakan acara yang cukup menarik dikarenakan kita dapat mengenal makanan dari negara-negara lain dan juga dapat mencicipinya.

EMCE 2026 sukses sebagai wadah mahasiswa tingkat satu untuk melatih public speaking dalam bahasa Inggris, kerja sama tim, serta kemampuan menarik perhatian pengunjung. Elvina merasa melalui EMCE 2026 sangat membantu dirinya sebagai mahasiswa tingkat pertama. “Sangat membantu banget (EMCE) di tahun pertama untuk belajar komunikasi secara langsung. Gimana caranya kita berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, apalagi spesialis di bisnis. Itu sangat-sangat membantu anak-anak tahun pertama untuk belajar kayak how to manage people, how to attract people.” ujarnya. Ia juga menambahkan harapannya untuk EMCE terus diadakan di tahun-tahun berikutnya karena sangat membantu mahasiswa tingkat satu dalam mengembangkan skill mereka. Pada akhirnya, EMCE tahun ini berhasil menutup akhir semester genap dengan sukses sebagai tugas akhir mahasiswa tingkat pertama BIKBP.

 

(Erinna Putri Sutanto)

 

Post View : 11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *