Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Makan Bergizi Gratis: Solusi Jangka Panjang atau Program yang Masih Perlu Dievaluasi?

Para Siswa SD Menerima MBG (Sumber: RRI)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan yang paling banyak mendapat perhatian publik dalam satu tahun terakhir. Dengan tujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan, program ini diharapkan mampu menjadi investasi jangka panjang bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Di tengah masih adanya persoalan stunting, kekurangan gizi, dan ketimpangan akses pangan di berbagai daerah, kehadiran MBG tentu saja membawa harapan besar. 

Secara konsep, sulit untuk menolak tujuan mulia yang diusung program ini. Bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi, bantuan makanan bergizi ini dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Di sisi lain, program ini juga berpotensi membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat sejak usia dini. Anak-anak yang sebelumnya terbiasa mengonsumsi jajanan dengan nilai gizi rendah dapat diperkenalkan pada pola makan yang lebih seimbang. Dalam jangka panjang, perbaikan kualitas gizi diharapkan berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, hingga produktivitas masyarakat.

Namun, tujuan yang baik tidak serta-merta menjamin sebuah kebijakan berjalan efektif. Terlebih, MBG merupakan program berskala nasional yang menggunakan anggaran negara dalam jumlah sangat besar. Oleh karena itu, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah tujuan program ini baik atau buruk, melainkan apakah program ini benar-benar layak menjadi prioritas utama dan mampu memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. 

Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian adalah transparansi studi kelayakan program, sebagai kebijakan yang menyerap anggaran besar, masyarakat berhak mengetahui dasar perhitungan yang digunakan pemerintah dalam menentukan bahwa MBG merupakan pilihan kebijakan yang paling efektif. Seberapa besar manfaat yang diproyeksikan? Apa indikator keberhasilannya? Bagaimana perbandingannya dengan program lain yang juga bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil benar-benar berbasis kebutuhan dan data.

Selain itu, besarnya anggaran yang dialokasikan untuk MBG juga memicu berbagai tanggapan dan kritik dari masyarakat. Dalam kebijakan publik dikenal konsep opportunity cost, yaitu adanya pilihan alternatif yang harus dikorbankan ketika sumber daya difokuskan pada satu program tertentu. Dengan anggaran yang mencapai ratusan triliun rupiah, publik tentu dapat mempertanyakan apakah dana tersebut menghasilkan manfaat yang lebih besar dibandingkan jika digunakan untuk sektor lain, seperti peningkatan kualitas pendidikan, fasilitas kesehatan, sanitasi, beasiswa, atau program pengentasan kemiskinan lainnya. Pertanyaan ini bukan bentuk penolakan terhadap MBG, melainkan bagian dari upaya memastikan bahwa setiap rupiah yang berasal dari masyarakat digunakan secara optimal.

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah aspek tata kelola dan pengawasan. Belakangan, muncul berbagai sorotan terkait pelaksanaan MBG, mulai dari dugaan penyimpangan dalam pengelolaan hingga kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa ratusan siswa. Meskipun kasus-kasus tersebut tidak serta-merta mencerminkan keseluruhan program, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan di lapangan masih membutuhkan perhatian serius. Program yang bertujuan meningkatkan kesehatan masyarakat harus memiliki standar keamanan pangan, distribusi, dan pengawasan yang sangat ketat agar manfaat yang diharapkan tidak berubah menjadi risiko bagi penerima manfaat.

Pada akhirnya, keberhasilan suatu kebijakan tidak dapat diukur hanya dari besarnya anggaran yang dikeluarkan atau banyaknya penerima manfaat yang tercatat. Keberhasilan harus diukur dari dampak nyata yang dihasilkan serta kemampuan program menjawab kebutuhan masyarakat secara efektif dan berkelanjutan. MBG mungkin memiliki tujuan yang sangat baik dan potensi manfaat yang besar bagi masa depan Indonesia. Namun, justru karena skala dan anggarannya yang sangat besar, program ini perlu terus dievaluasi secara terbuka, didukung oleh studi kelayakan yang kuat, serta diawasi secara ketat.

Tujuan utama kebijakan publik adalah menghadirkan kesejahteraan dan kemaslahatan bagi masyarakat. Oleh karena itu, apabila evaluasi menunjukkan bahwa suatu program perlu diperbaiki, disesuaikan, atau bahkan dialihkan ke kebijakan lain yang lebih efektif, maka langkah tersebut seharusnya dipandang sebagai bentuk tanggung jawab dalam mengelola kepentingan publik. Sebab pada akhirnya, yang terpenting bukanlah mempertahankan sebuah program, melainkan memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.

 

(Najla Shadzwina)

 

Post View : 9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *