Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141
Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com


Indonesia tengah diguncang ujian berat sepanjang Agustus 2026 akibat hantaman bencana ganda dari ujung timur hingga barat. Di tengah ribuan pengungsi gempa Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan ancaman kabut asap karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di Kalimantan, respons pemerintah yang dinilai lamban memicu gelombang kekecewaan dari masyarakat dan mahasiswa.
Rasa kecewa ini gencar diutarakan oleh mahasiswa melalui banyak aksi, salah satunya adalah aksi pernyataan sikap. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya menggelar aksi pernyataan sikap untuk menyuarakan kekecewaan dan kekesalan mereka terhadap pemerintah terkait penanganan bencana alam yang dinilai kurang memuaskan. Aksi ini digelar pada Kamis, 27 Agustus 2026 dan bertempat di Gedung Sentral Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK). Naufal Syahfalevie Samosir, selaku Presiden BEM FBiPK, mengungkapkan, “Ini digambarkan daripada menteri kehutanan yang belum terlihat hingga hari ini, baik di media maupun di beberapa daerah titik bencana di Nusa Tenggara, Kalimantan, hingga Lombok yang baru-baru ini di desa wisata kalo tidak salah. Kami juga menilai bahwa ini merupakan bencana tahunan yang seharusnya bisa dimitigasi-mitigasi yang beberapa hal di bulan-bulan tertentu.”
Lebih lanjut, kritik yang digelorakan oleh BEM FBiPK UB tersebut menyoroti respon pemerintah yang kurang tanggap dalam menangani para korban. Naufal Syahfalevie mengungkapkan bahwa hingga hari ini para korban belum mendapat bantuan dana dari pemerintah. Ia merasa bantuan seperti ini bisa menjadi ladang korupsi bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Mereka menggunakan data sekunder melalui berita dan data primer dari rekan kakak tingkat yang sedang bekerja di Kalimantan untuk mengetahui kondisi terbaru di sana. “Beberapa titik di Kalimantan Tengah dan Timur itu tidak dipadamkan oleh pemerintah, melainkan oleh orang-orang di sekitarnya yang memadamkan sendiri dengan alat-alat sederhana,” ucap Naufal yang menyayangkan lambannya respon pemerintah dalam memitigasi bencana karhutla secara serius.

Di tengah lambannya respon pemerintah dalam menangani hal tersebut, BEM FBiPK UB mendesak adanya aksi nyata di lapangan secara menyeluruh. Naufal menegaskan bahwa pemerintah seharusnya turun tangan langsung untuk mengecek kondisi nyata di lapangan, bukan sekadar mengandalkan peninjauan permukaan. Selain itu, untuk menunjukkan rasa kepedulian kepada korban yang terdampak, Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan memberikan bantuan keuangan kepada mahasiswa yang berasal dari NTT. “Pun hari ini Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan telah mengambil langkah untuk teman-teman mahasiswa, buat mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari NTT diberikan bantuan keuangan. Per hari ini yang terdata sejumlah 4 orang, dan alhamdulillah sudah disampaikan kepada pihak yang bersangkutan,” ungkap Naufal.
Menyambung langkah nyata tersebut, BEM FBiPK UB menegaskan bahwa tuntutan-tuntutan tersebut harus segera diwujudkan. “Dari tuntutan-tuntutan sendiri ini nantinya kita akan eskalasikan ke sosial media dan untuk tenggat waktunya secepat-cepatnya. Itulah yang dibutuhkan oleh teman-teman kita, rekan-rekan kita, saudara-saudara kita baik yang di Kalimantan dan NTT,” ujar Farhan, selaku Menteri Kajian Aksi dan Strategis. Ia menambahkan bahwa yang mereka butuhkan tidak ada tenggat waktu, yang mereka butuhkan hari ini. Selain mengusahakan agar cepat ditindak, mereka juga akan menggelar aksi solidaritas untuk rekan-rekan yang terdampak. “Ini salah satu bentuk kekecewaan kami dan kami mencoba untuk menyadarkan terus masyarakat, di mana pada saat ini yang bisa diandalkan adalah rakyat bantu rakyat,” tambah Farhan.
Naufal juga mengingatkan kepada rekan mahasiswa yang ingin ikut terlibat dalam kondisi ini dengan menggunakan sosial media. Ia menyebutkan bahwa di era digitalisasi ini, mereka sangat mengandalkan media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, dan lainnya dalam penyebaran propaganda-propaganda yang mereka buat. “Namun daripada media sosial, tidak perlu waktu banyak untuk tetap ngejaga, untuk tetap dinilai tidak apatis daripada permasalahan-permasalahan yang terjadi di negara kita,” ungkapnya. Farhan juga mengungkapkan harapan dari aksi pernyataan sikap ini mampu menggerakan hati rakyat maupun hati para pemerintah itu sendiri untuk bergerak atau berjuang bersama. “Dari pernyataan sikap ini harapannya selain juga untuk menggugah hati dari pemerintah, tapi juga menggugah hati masyarakat untuk bergerak bersama-sama, berjuang bersama-sama untuk membantu rekan-rekan kita di sana,” tuturnya.
(Erinna Putri Sutanto)