Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Seribu Cerita dari Lapangan Upacara: Dinamika, Kehangatan, dan Kebersamaan di LDK 2026

Penampilan Peserta Gelombang 5 LDK 2026 Dodikjur Rindam V/Brawijaya (Wahyu)

Di bawah panas matahari yang membakar lapangan Dodikjur Rindam V/Brawijaya, ratusan derap langkah kaki bersahutan. Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) 2026 menjadi salah satu agenda tahunan Politeknik Negeri Malang (Polinema) sekaligus bagian dari rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) yang mempertemukan ratusan mahasiswa baru, pembina, dan panitia dalam satu rangkaian kegiatan. Namun, di balik penutupan tersebut, tersimpan ribuan peristiwa kecil, mulai dari perjuangan menahan panas, kepedulian teman, hingga derai tawa di sela-sela kelelahan. 

Bagi mahasiswa baru (maba), memasuki markas militer Dodikjur seringkali dibayangi oleh ekspektasi yang menegangkan. Fariza, mahasiswa baru program studi D3 Administrasi Bisnis dari Surabaya, sempat menyatakan bahwa dia menduga bahwa dia akan mengalami latihan fisik yang intens serupa dengan latihan militer berat. “Sebelum ikut, aku pikirnya akan disuruh push up atau digembleng habis-habisan,” Fariza terkekeh sambil mengingat betapa berbedanya itu. Sementara ia menghadapi panas matahari, teman-teman barunya memberinya kehangatan. Kawan-kawan sekamarnya dengan sigap merawatnya saat tubuhnya sempat drop dan sakit di pertengahan kegiatan. Fariza melihat LDK sebagai tempat di mana perasaan empati dan persahabatan yang tulus muncul. 

Cerita serupa juga datang dari Fiki Amaritwan, mahasiswa Teknik Informatika asal Malang. Ia mengaku sempat merasa khawatir sebelum mengikuti LDK karena membayangkan kegiatan yang berat dan melelahkan. Namun kekhawatiran itu perlahan-lahan hilang setelah ia merasakan langsung suasana kegiatan. Berbagai aktivitas yang dijalani bersama teman-teman baru justru meninggalkan banyak kenangan yang menurutnya layak untuk diceritakan kembali kepada keluarga maupun sahabat setelah kegiatan berakhir. “Banyak kejadian yang tak terlupakan, kayak outbound dan seru-seruan bareng,” ujarnya.

Ada juga cerita unik yang datang dari Dimas Bahari, mahasiswa jurusan Teknik Mesin asal Malang. Jika sebagian peserta terkesan dengan kemeriahan rangkaian acara, kenangan paling berkesan bagi Dimas justru datang dari keterbatasan fasilitas yang ada. “Momen paling konyol dan tak terlupakan itu waktu mandi bareng, jadi dua kamar mandi dibuat untuk mandi setengah barak,” tutur Dimas sambil tertawa. Namun, di balik riuhnya rutinitas pagi yang berkejaran dengan waktu, momen upacara penutupan dengan berbagai penampilan peserta tetap menjadi penutup manis yang paling membekas di benaknya. 

Menurut para pelatih, kedatangan ribuan mahasiswa dari seluruh Indonesia memberikan warna tersendiri. Kepala urusan pelatih Dodikjur Rindam V/Brawijaya, Budi Sutrisno, sangat bangga melihat ketahanan mental dan dedikasi para peserta di gelombang terakhir. Rata-rata anak zaman sekarang kadang-kadang suka bolos saat upacara di sekolah karena panas. Tapi di sini, dengan persiapan upacara dan penampilan sekitar lima belas menit di bawah sinar matahari, tidak ada satupun yang tumbang.

Ia menceritakan betapa menariknya berinteraksi dengan siswa dari berbagai latar belakang budaya, dari Sabang hingga Papua. Meskipun maba sering dianggap memiliki sifat yang masih dianggap ‘manja’, energi khas anak muda selalu berhasil mengubah mood. 

Setelah latihan dan istirahat singkat, anak-anak berkumpul, bernyanyi, dan menyuarakan yel-yel. Motivasi meningkat dari yang sebelumnya 50% menjadi 90%. “Seperti aki yang dicharge,” kata Budi sembari tersenyum. Menurut pelatih, LDK bukan hanya membentuk disiplin, tetapi tempat untuk membangun calon pemimpin dan panutan masyarakat.

Di balik peserta dan pelatih yang menjalani kegiatan, panitia Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) juga memainkan peran penting dalam keberhasilan LDK di setiap gelombang. Menurut Laurencia Glory Aulia Putri, selaku Menteri Dalam Negeri, persiapan timnya sudah dimulai jauh sebelum gelombang pertama tiba di Dodikjur. “Persiapan efektif kami sekitar tiga minggu dari pertengahan Juni. Kami mengurus anggaran, berkoordinasi dengan dosen, dan membagi kuota maba per gelombang,” jelasnya.

Mendampingi peserta dari gelombang awal hingga gelombang penutup bukanlah perkara mudah. Di saat peserta fokus mengikuti rangkaian kegiatan, panitia harus membagi fokus antara teknis lapangan di Dodikjur dan urusan lain di kampus. Meski kelelahan tak terelakkan, ada satu momen sederhana yang selalu berhasil membayar tuntas rasa lelah panitia yaitu malam api unggun.

Api Unggun Penutupan LDK 2026 (Wahyu)

Malam-malam, semua anggota panitia dan peserta keluar bersama. Laurencia mengatakan, “Barak BEM yang biasanya ramai sekarang kosong karena semua berkumpul menikmati hangat api unggun bersama.” Dari berbagai momen yang ada, api unggun inilah yang menjadi bagian paling berkesan karena mampu menghadirkan suasana kebersamaan yang sulit ditemukan pada kegiatan lainnya. Terlebih, tahun ini menjadi kesempatan terakhir bagi angkatannya untuk terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.

Di tengah kesibukan panitia memastikan seluruh rangkaian berjalan, kondisi peserta juga menjadi perhatian tersendiri. Selama lima gelombang LDK berlangsung, tim kesehatan Bakti Karya Mahasiswa (BKM) turut mendampingi peserta yang membutuhkan pertolongan. 

Bagi Anissa Nadi, koordinator tim kesehatan BKM Angkatan 25, pengalaman tersebut terasa seru sekaligus melelahkan. LDK 2026 juga menjadi pengalaman pertamanya menjalankan tugas sebagai koordinator. “Seru sih seru, tapi juga capek. Ini kan pertama kali aku jadi koordinator di LDK, jadi deg-degannya juga ada,” ungkap Anissa.

Selama bertugas, salah satu kejadian yang paling diingat Anissa terjadi pada gelombang kedua. Seorang peserta mengalami kambuh skoliosis hingga tidak dapat berjalan dan membuat orang tuanya harus dipanggil. Selain itu, tim kesehatan juga menghadapi berbagai keluhan lain selama kegiatan, diantaranya yaitu GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), asma, dan patah tulang menjadi beberapa keluhan yang paling sering ditemui.

Untuk menangani peserta, tim kesehatan dibagi menjadi tiga kelompok yang disebar di lokasi kegiatan. Pembagian tersebut membuat anggota tim dapat lebih mudah memantau kondisi peserta dan segera mengambil inisiatif ketika ada yang membutuhkan pertolongan.

Rasa lega bagi Anissa justru muncul ketika kegiatan memasuki hari ketiga atau keempat. Peserta yang sebelumnya membutuhkan penanganan mulai kembali bersemangat mengikuti kegiatan. “Biasanya kalau hari ketiga tuh ada outbound. Kebanyakan yang sakit malah semangat buat ikut. Semangatnya kembali lagi, jadi nggak banyak yang harus diurus,” ujar Anissa.  

Meski seluruh rangkaian telah selesai, masih ada catatan yang dibawa BKM untuk pelaksanaan berikutnya. Anissa menilai inisiatif anggota serta koordinasi antara BKM dan BEM masih perlu ditingkatkan agar pelaksanaan LDK tahun depan dapat berjalan lebih baik.

Penampilan defile dari Mahasiswa LDK Gelombang 5 (Izul)

Setelah melewati lima gelombang dan berbagai cerita selama empat hari, rangkaian LDK 2026 akhirnya sampai pada penghujung kegiatan. Di bawah terik matahari yang menyelimuti lapangan hitam di Dodikjur, ratusan mahasiswa baru tetap berdiri tegak mengikuti rangkaian penutupan LDK 2026. Barisan yang rapi dan berbagai penampilan yang ditunjukkan peserta menjadi gambaran dari proses panjang yang telah mereka lalui selama empat hari terakhir. Bagi para pelatih, keberhasilan seluruh peserta menyelesaikan kegiatan hingga akhir tanpa kendala merupakan pencapaian yang sangat membanggakan. Semangat dan ketahanan yang ditunjukkan peserta dinilai menjadi bukti bahwa mereka mampu menghadapi tantangan bersama dengan baik dan kompak.

Persiapan dan latihan yang dilakukan tidak hanya melatih kemampuan teknis, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan di antara peserta dan panitia, baik di barak maupun di lapangan. Berbagai tantangan yang dilalui perlahan menjadi pengalaman bersama, mulai dari menjaga kedisiplinan, membangun komunikasi, hingga saling membantu ketika menghadapi kesulitan.

Pada akhirnya, penutupan LDK 2026 bukan sekadar seremoni akhir dari rangkaian kegiatan mahasiswa baru. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi ruang bagi seluruh peserta untuk melihat kembali perjalanan yang telah mereka lalui bersama. Dari latihan di bawah panas matahari, tawa suka cita saat berkumpul di barak, hingga kebersamaan saat penutupan, semuanya menjadi bagian dari pengalaman yang akan terus dikenang sebagai langkah awal perjalanan mereka di Polinema.

 

(Elsa Tri Meida Ananta, M. Izul Murtaqi, Wahyu Nur Hidayah)

 

Post View : 25

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *