Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Kerja Kelompok vs Kerja Sendiri: Kritik terhadap Budaya “Hadir tanpa Kontribusi” di Kampus

Si Numpang Nama (Wahyu)

Di atas kertas, tugas kelompok dirancang sebagai laboratorium kolaborasi, wadah untuk mengasah kerja sama, membagi beban, dan membangun relasi antar mahasiswa. Namun, dalam realitas perkuliahan, ekspektasi ideal ini kerap runtuh. Alih-alih meringankan beban, kerja kelompok justru sering berubah menjadi beban bagi pihak-pihak tertentu. Fenomena “penumpang nama”, kini telah menjadi rahasia umum yang merusak integritas akademik dan memudarkan esensi gotong royong di kampus.

Sosok penumpang nama disini adalah individu atau mahasiswa yang memiliki kontribusi minim terhadap kelompoknya, tetapi ingin namanya tetap dicantumkan di hasil kerja selayaknya anggota lain yang telah berkontribusi banyak untuk menutupi celah yang ditimbulkan si penumpang nama. Dengan kebiasaan seperti hilang-hilangan dan juga kurangnya respons mereka saat diajak berdiskusi, mereka dengan tiba-tiba muncul di hari pengumpulan dan bersikap bahwa mereka juga ikut andil dalam pengerjaan tugas kelompok tersebut.  

Kehadiran penumpang nama ini secara langsung merusak ekosistem kerja kelompok. Beban tugas yang seharusnya terbagi rata justru menumpuk pada segelintir anggota yang bertanggung jawab. Ketimpangan ini tak jarang memicu frustrasi, stres, dan rasa tidak adil yang mendalam. Mereka yang tersisa terpaksa menambal celah kosong dengan mengerjakan porsi tugas orang lain demi menjaga kualitas akhir. Akibatnya, alih-alih menjadi proyek kolaborasi yang kreatif, tugas kelompok sering kali menjadi beban mental yang kontraproduktif, di mana hasil akhirnya pun sering kali gagal mencapai potensi maksimal karena hilangnya sinergi antar anggota.

Fenomena ini tak lahir dari ruang hampa. Di balik perilaku penumpang nama, terdapat perpaduan kompleks antara budaya instan yang mengabaikan proses dan kelemahan sistem evaluasi akademik. Sering kali dosen hanya memvalidasi hasil akhir tanpa menelisik kontribusi di baliknya, sehingga nilai yang setara tetap didapat meski kerja tidak sepadan. Paradoks ini diperparah oleh budaya sungkan di kalangan mahasiswa–rasa tidak enak hati untuk bersikap tegas terhadap teman sering kali lebih dominan daripada tanggung jawab atas integritas tugas itu sendiri. Akibatnya, ketidakjujuran ini terus berulang, didukung oleh sistem yang suka tutup mata dan lingkungan pertemanan yang enggan untuk melakukan koreksi.

Dari adanya fenomena penumpang nama, kita perlu mengambil sikap tegas. Kampus bukan sekadar tempat mengejar angka, melainkan kawah candradimuka untuk membentuk integritas. Sudah saatnya kita meninggalkan budaya sungkan dan mulai berani bicara ketika kontribusi tidak sepadan. Di sisi lain, menuntut sistem penilaian yang lebih transparan adalah langkah mendesak agar setiap tetes keringat mahasiswa dihargai secara adil. Pada akhirnya, kerja kelompok harus kembali ke fitrahnya: sebuah ruang kolaborasi yang sehat, bukan tempat berlindungnya mereka yang hanya ingin memetik hasil tanpa pernah menanam.

 

(Rizky Dharma Putra)

 

Post View : 12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *