Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Kekeliruan Mahasiswa dalam Menggunakan AI: Dari Mahasiswa Menjadi “HAMAsiswa”

HAMAsiswa (Wahyu)

Hadirnya teknologi AI (Artificial Intelligence) telah membawa perubahan besar, khususnya di dunia pendidikan. Seorang mahasiswa atau siswa tak perlu lagi susah payah mencari dan membaca begitu banyak jurnal atau artikel demi mendapatkan jawaban dari satu soal. Mereka hanya perlu mengirim prompt ke AI untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, entah itu jawaban dari soal tugas yang ringan, membuat PPT, menulis laporan, atau bahkan mengerjakan soal yang sangat sulit pun AI mampu menjawab itu semua.

Namun, menurut penulis, ada banyak fenomena kekeliruan penggunaan AI di kalangan mahasiswa. Penulis di sini mengambil contoh fenomena dari mahasiswa karena penulis sendiri merupakan seorang mahasiswa. Mahasiswa menggunakan AI untuk mendapatkan jawaban instan tanpa melakukan proses berpikir. Contoh simpelnya, seorang mahasiswa mendapatkan tugas dari dosen. Tugas tersebut dimasukkan ke AI, kemudian AI memberikan jawaban. Lalu, mahasiswa tersebut hanya menyalin jawaban itu tanpa melakukan review terhadap jawabannya maupun melalui proses berpikir yang matang. Di situlah penulis menganggap bahwa mahasiswa kehilangan esensi kemahasiswaannya yang dituntut untuk berpikir kritis.

Ada yang lebih parah dari itu. Penulis mendapati ada beberapa mahasiswa di kelas penulis yang kedapatan menggunakan AI ketika sedang melaksanakan ujian, entah itu kuis, UTS, maupun UAS. Penulis di situ kaget karena tidak menyangka ada mahasiswa yang melakukan kecurangan begitu bejatnya di lingkungan akademik. Di situlah penulis mulai menganggap bahwa mereka bukanlah mahasiswa, melainkan HAMAsiswa.

Namun, di situ penulis masih berpikir baik. Mungkin saja dosen tahu mana mahasiswa yang curang ketika melaksanakan ujian dan mana yang tidak. Toh, bagaimanapun juga jawaban dari AI dan mahasiswa cukup, atau bahkan sangat, berbeda dalam gaya bahasanya. Selain itu, dosen sepertinya cukup mengetahui mana mahasiswa yang memang benar-benar memiliki kemampuan dan pemahaman yang baik, baik dalam bidang praktis maupun teori. Penulis menganggap bahwa dosen memiliki parameter yang jelas dalam memberikan nilai.

Namun, prasangka tersebut dipatahkan oleh selembar halaman PDF yang berisikan nilai Indeks Prestasi Semester. Penulis kemudian membandingkan nilainya yang sangat jelek dengan nilai HAMAsiswa yang melakukan kecurangan sewaktu ujian. Hasilnya, perbedaannya sangat jauh. Di situ penulis termenung dan berpikir, “Sebenarnya apa yang dinilai? Jawaban mereka yang merupakan hasil dari kecurangan, atau mereka yang berusaha semampu mungkin dengan kejujuran?” Nampaknya, dari kejadian tersebut, penulis menyimpulkan bahwa kejujuran tidak ada harganya dalam nominal nilai akademik.

Mungkin pembaca menganggap bahwa penulis dalam tulisan ini sedang mencurahkan kebencian, memusuhi, atau menolak AI. Tentu anggapan tersebut salah, karena penulis tidak membenci maupun menolak AI. Bagaimanapun juga, AI hanyalah alat yang memang sangat membantu saat ini. Penulis pun menggunakan AI dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkup akademik maupun non akademik. Namun, penulis selalu memberikan batasan kepada diri sendiri dalam penggunaan AI. Jangan sampai karena selalu dimudahkan oleh AI, kita menjadi terlena. Bahkan, untuk hal yang sangat ringan pun kita mengandalkan AI tanpa menggunakan pemikiran kita sendiri untuk menyelesaikannya.

Bagi pembaca, baik yang seorang mahasiswa maupun bukan, ketika membaca tulisan ini hendaknya senantiasa menjaga esensi sebagai manusia yang selalu dituntut untuk menggunakan akal dan pikiran secara kritis, terlebih bagi kamu yang berstatus sebagai mahasiswa. Selalu berusahalah untuk menggantungkan suatu hal pada pola pikirmu, bukan pada alat AI-mu.

 

(Eka Wahyu Prasetyo)

 

Post View : 13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *