Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141
Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com


Setelah banyaknya keluh-kesah, aspirasi, hingga adanya postingan menfess di akun @polinemafess yang mengundang polemik, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Malang (Polinema) melalui Kementerian Kajian dan Aksi Strategis (KASTRA) menanggapinya dengan membuat forum bernama “Ngobrol Perkara Isu: Satu Meja, Dua Perspektif” yang digelar pada 11 September kemarin.
KASTRA BEM Polinema menjelaskan, bahwa diadakannya forum tersebut bertujuan untuk meluruskan simpang siur terkait pelaksanaan serangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) yang menjadi polemik besar di akun @polinemafess, sekaligus membuka ruang diskusi bagi seluruh mahasiswa, baik mahasiswa baru (maba) maupun mahasiswa biasa.
Dalam pelaksanaannya, forum yang diharapkan menjadi ruang aman untuk bersuara ini justru terasa kurang ideal bagi sebagian mahasiswa lantaran audiens forum tidak hanya dihadiri oleh pihak-pihak yang berkepentingan seperti maba, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), tetapi juga mahasiswa tingkat atas.
Menurut pengakuan maba berinisial P, forum terbuka yang membahas polemik PKKMB tersebut justru terasa intimidatif lantaran didominasi mahasiswa umum tingkat atas. Forum yang sejatinya menjadi wadah aspirasi dan diskusi dua arah antara maba dan lembaga terkait justru terasa menyudutkan posisi maba yang ingin bersuara. Meskipun intensitas perdebatan cukup tinggi dan kental, Angga, selaku Menteri KASTRA BEM Polinema, mengaku senang melihat keberanian maba yang berani menyampaikan pendapat di depan kakak tingkatnya.
Tentunya, perdebatan tersebut tidak lepas dari topik pembahasan yang terus berputar-putar tanpa arah yang jelas. Kebuntuan ini terjadi karena minimnya bukti konkret yang dibawa oleh maba untuk mempertanggungjawabkan keluhan-keluhan yang membanjiri lini masa @polinemafess.
P mengungkapkan bahwa rentetan keluhan yang membanjiri akun menfess tersebut dipicu oleh emosi sesaat dan efek psikologis massal. “Sebenarnya mereka speak up itu mungkin tersulut emosi juga. Ada satu yang speak up, satunya merasa ‘Oh iya ya, aku kok merasa relate’, padahal sebenarnya tidak relate-relate banget. Cuma sedikit yang kena masalah, cuma yang lain merasa relate aja,” ungkap P. Hal tersebut mencapai satu kesimpulan bahwa diskusi tidak kunjung menemukan konklusi karena keluhan yang diperdebatkan lebih banyak berlandaskan asumsi dan validasi sepihak di media sosial.
Di tengah diskusi yang tak kunjung menemukan titik temu dan argumen yang terus berputar, fokus forum tiba-tiba bergeser. Perhatian audiens yang awalnya tertuju pada keluhan PKKMB, perlahan beralih pada gelagat janggal dari salah satu peserta forum. Peserta forum yang diketahui adalah mahasiswa tingkat atas tersebut terus-menerus mengambil panggung dan mendominasi pembicaraan seolah bertindak sebagai tameng pelindung utama bagi para maba.
Forum yang telah ramai dan mulai memanas itu pun akhirnya mulai memperkenalkan puncaknya tatkala para Pimpinan Organisasi Kemahasiswaan Intra (OKI) Polinema mengindikasi dan mencurigai salah satu mahasiswa yang ada di forum tersebut adalah admin dari @polinemafess. Ilhaq, selaku Ketua Umum Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), menyampaikan bahwa indikasi dan kecurigaan tersebut terjadi lantaran mahasiswa yang dicurigai selalu menggiring opini seakan-akan serangkaian PKKMB ini salah dan tidak efektif. Setelahnya Ilhaq pun menuturkan, “Dari dugaan tersebut, teman-teman mengajak terduga untuk bertemu di belakang, juga menanyakan dan melakukan pengecekan di ponselnya. Setelah dilakukan pengecekan, benar diketahui bahwasannya mahasiswa tersebut adalah admin dari @polinemafess”.
Setelah diketahui bahwa mahasiswa tersebut adalah admin @polinemafess, ia akhirnya dibawa kembali ke forum. Setelah forum mengetahui bahwa mahasiswa tersebut adalah admin, sontak para mahasiswa yang berada di forum mendesak admin tersebut melakukan pernyataan klarifikasi. Desakan ini muncul akibat maraknya disinformasi di akun @polinemafess. Klarifikasi admin dinilai penting agar maba menyadari bahwa isu yang selama ini beredar tidaklah benar. “Forum tersebut bertujuan meluruskan informasi dari menfess yang dinilai tidak benar agar diketahui oleh maba. Mengingat PKKMB merupakan kegiatan yang penting bagi mahasiswa baru, peserta forum mendesak agar permasalahan segera diselesaikan sehingga rangkaian kegiatan dapat terus berjalan, meskipun suasana forum sudah cukup memanas,” tutur Angga, selaku Menteri KASTRA BEM Polinema.
Namun klarifikasi yang dilakukan oleh admin @polinemafess tidak berjalan semulus itu. Peserta forum yang kepalang panas dan emosi selalu melontarkan kata kasar sewaktu admin membuat pernyataan. Forum pun menemui puncaknya tatkala admin telah selesai membuat pernyataan dan hendak dibawa oleh satpam dan jajaran pimpinan OKI keluar dari forum tersebut. Satpam mengatakan bahwa mereka menghimbau untuk jangan sampai ada kekerasan fisik yang dilakukan kepada admin. Namun, tampaknya hal tersebut tidak dihiraukan oleh peserta forum.
M, selaku satpam yang mengamankan admin dari forum menyatakan, “Waktu itu memang pas kita pemindahan dari lokasi Aula Pertamina ke pos satpam memang ada kekerasan fisik ya. Cuma kalau mengenai enggaknya kita kurang tau, kita ya fokus mengamankan si admin itu aja sih”. Menyayangkan hal tersebut, Ilhaq menjelaskan tidak ada pukulan dari oknum peserta yang mendarat langsung pada admin, melainkan sebatas aksi dorong-dorongan di tengah kerumunan. Ia menambahkan bahwa keramaian yang terjadi sewaktu pengamanan admin hanya sebatas dorong-dorongan dan juga kekerasan verbal.
Pasca-kerusuhan dan evakuasinya admin @polinemafess dari Aula Pertamina, pihak keamanan segera berkoordinasi dengan BEM serta admin terkait untuk menyelesaikan masalah demi mencegah gejolak kerusuhan. Sebagai langkah mitigasi agar misinformasi tidak semakin liar, BEM Polinema mengambil keputusan tegas dengan mengambil alih akun @polinemafess secara penuh.
Angga menegaskan bahwa pengambilalihan akun tersebut bukanlah bentuk pembatasan atau pembungkaman terhadap ruang aspirasi mahasiswa, melainkan upaya preventif agar kerusuhan tidak semakin berlarut-larut. Selain itu, BEM khawatir akun tersebut akan kembali disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab. “Untuk tindakan selanjutnya, kami biarkan saja karena kevalidannya nol. Mulai hari ini kami menghapus postingan-postingannya agar tidak menjadi bumerang atau mencoreng nama baik Polinema di mata publik luar,” tegas Angga.
Dengan beralihnya akun menfess yang selama ini menjadi muara keluh-kesah ke tangan lainnya, kemana mahasiswa baru harus menyalurkan aspirasinya?
Polemik dan terbongkarnya identitas admin @polinemafess menimbulkan kekhawatiran di kalangan mahasiswa baru, terutama terkait keberlangsungan ruang aman dan anonim bagi mereka untuk menyampaikan keluh kesah. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat membuat maba merasa tertekan dan enggan menyuarakan aspirasi maupun keresahan yang mereka alami. Untungnya kekhawatiran tersebut ditampik oleh pernyataan P yang seorang mahasiswa baru. Ia merasa dengan adanya forum kemarin menjadi pemantik bagi para maba untuk tidak takut lagi dalam menyuarakan pendapat. “Meskipun suasana forum kemarin masih terasa mengintimidasi bagi maba, langkah untuk membuka ruang diskusi tetap merupakan awal yang baik. Kedepannya, sistem forum harus diperbaiki agar bisa menjadi ruang yang benar-benar aman dan netral bagi maba untuk menyampaikan keresahan tanpa tekanan.”
P pun menyampaikan bahwa berdasarkan apa yang ia dengar dalam forum, mahasiswa yang memiliki keluhan, keresahan, dan ingin menyampaikan aspirasi dapat langsung menyampaikannya pada Tenda Advokasi melalui Kementerian Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Advokesma) BEM Polinema. P juga menambahkan, bahwa saluran resmi seperti Advokesma atau platform DPM bisa menjadi alternatif penyaluran aspirasi, asalkan pihak lembaga terkait benar-benar konsisten menjamin kerahasiaan identitas dan keamanan mahasiswa yang melapor.
Ilhaq juga memberikan informasi bahwa DPM Polinema kini memiliki wadah penyampaian aspirasi sendiri yang bernama SAMBAT.O. SAMBAT.O merupakan platform resmi yang dihadirkan sebagai jembatan komunikasi antara mahasiswa dengan lembaga legislatif kampus. Melalui SAMBAT.O, seluruh mahasiswa Politeknik Negeri Malang dapat menyampaikan aspirasi, kritik, saran, dan gagasan demi kemajuan bersama. Ilhaq juga menjelaskan bahwa aspirasi yang disampaikan melalui SAMBAT.O dijamin kerahasiaannya oleh DPM selaku pemilik wadah penyampaian aspirasi tersebut.
(Eka Wahyu Prasetyo, Karina Putri Ghaisani Yudawan)