Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Di Balik Ramainya @polinemafess: Beralihnya Aspirasi Maba dari Jalur Resmi ke Ruang Anonim

Screenshot Akun Instagram @polinemafess

Menyuarakan isi hati sering kali menjadi dilema ketika privasi masih menjadi pertimbangan. Di tengah perkembangan media sosial, kehadiran menfess menawarkan ruang bagi seseorang untuk berbagi cerita, keluhan, maupun pendapat secara anonim tanpa harus mengungkapkan identitasnya. Tren ini pun semakin marak di berbagai kampus di Indonesia, terutama melalui platform Instagram. Beragam akun menfess bermunculan dan menjadi tempat mahasiswa untuk menyampaikan keresahan maupun pengalaman mereka selama menjalani kehidupan perkuliahan. Fenomena serupa juga dapat ditemui di Politeknik Negeri Malang (Polinema) melalui akun @polinemafess yang menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan berbagai hal yang mereka rasakan.

Kemunculan akun @polinemafess berawal dari kebutuhan mendesak dari para mahasiswa baik mahasiswa baru (maba) ataupun mahasiswa tingkat akhir untuk memiliki wadah beropini terkait keluhan yang mereka alami di Polinema. Terlebih, terdapat akun serupa yaitu @pssi.polteksoehat yang telah dibuat sebelumnya, tetapi akun tersebut sudah tidak aktif selama beberapa bulan terakhir. Akun yang baru dibuat pada 28 Agustus itu mulai ramai setelah unggahan anonim pada 6 September memuat keluh kesah mengenai kehidupan kampus Polinema yang dinilai terlalu kental dengan nuansa militer. Pengirim juga menilai Gen Z kini cenderung melihat sesuatu dari sisi visual, yang dirasa belum tercermin di Polinema. Unggahan tersebut menjadi turning point hingga akun itu mulai dibanjiri keluh kesah maba terkait Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru  (PKKMB) dan kehidupan kampus yang mungkin tak sesuai dengan bayangan mereka. “Bukan hanya maba, ada juga beberapa mahasiswa tingkat atas yang memiliki keluh kesah mengenai Polinema. Intinya, mereka membutuhkan wadah yang anonim dan terbuka untuk umum. Karena itu, saya memutuskan untuk membuat akun ini bersama beberapa teman,”  ujar S, selaku admin dari akun @polinemafess.

Salah satu postingan yang mendapatkan banyak atensi berisi keluhan seorang maba yang dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Hal ini bermula dari seorang maba inisial N yang mengeluhkan akses toilet yang dibatasi akibat rundown yang cukup padat. N mengungkapkan bahwa ia harus menahan selama hampir empat jam selama acara berlangsung. Akibatnya, beberapa hari setelah kejadian ia mengalami rasa sakit di bagian pinggul dan perut sehingga ia tidak dapat berdiri dan memutuskan untuk pergi ke IGD. “Tapi ternyata puncaknya itu waktu hari Senin dini hari. Jam tiga pagi saya kebangun karena kebelet pipis banget, tapi pinggul aku juga sakit dan sampai agak susah berdiri. Terus nelpon orang rumah, baru berangkat ke IGD,” papar N. 

Menanggapi terkait isu yang beredar, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) selaku panitia dari rangkaian PKKMB segera mengambil tindakan melalui menteri advokasi untuk menghubungi korban. “Ketika informasi tersebut masuk ke BEM Polinema, saya langsung mengarahkan Menteri Advokasi untuk berkomunikasi dengan korban. Sebagai penanggung jawab utama, sudah seharusnya BEM Polinema memastikan kondisi korban dan memberikan bantuan apabila memang dibutuhkan. Bagi kami, itu merupakan bagian dari tanggung jawab untuk memastikan korban mendapatkan pendampingan yang diperlukan,” ucap Raihan Zaky, Presiden BEM Polinema.

Pada tanggal 9 September, postingan berisikan keluhan seorang maba dari Jurusan Teknik Kimia yang kesal kepada HMTK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia) karena membuat acara selama berminggu-minggu tanpa jeda. Dalam kiriman menfess tersebut, ia mengatakan bahwa apa yang dilakukan HMTK itu percuma karena tujuan dari kegiatan tersebut pada ujungnya kembali ke individu masing-masing. Bahkan, di dalam postingan tersebut pengirim sampai menyentil urusan HAM (Hak Asasi Manusia) karena saking kesalnya dengan lama kegiatan dan banyaknya penugasan. Menanggapi kiriman menfess tersebut, HMTK mengatakan “Untuk timelinenya sendiri itu sebenarnya juga kami mematok dari aturan yang telah diturunkan oleh Bapak Wakil Direktur 3. Yang di mana untuk kegiatan student day ya sebutannya untuk kegiatan mahasiswa baru di kampus itu hanya boleh dilakukan di akhir pekan, di Sabtu-Minggu. Dan juga di sini bukan hanya serangkaian dari ospek jurusan aja tapi banyak juga dari BEM, ada Manajerial Diri dan lain-lain. Maka dari itu timeline dari HMJ pun menjadi di akhir pekan dan juga ada jarak tertentu,” ujar Dzafika Farhat Royan, selaku Ketua Umum HMTK.

Isu lainnya yang cukup sering bermunculan kali ini menyasarkan kakak tingkat (kating). Ungkapan tersebut nampaknya menjadi bentuk kekesalan dari para maba yang mengirim menfess secara anonim. Pasalnya, beberapa pengirim menilai maba 2026 terlalu banyak memprotes dan merasa paling susah sendiri. Padahal, mahasiswa tingkat atas juga pernah merasakan hal serupa ketika menjadi maba meski mereka memilih untuk tidak mengkritik hal tersebut. Narasi yang tak kalah ramai diperbincangkan ialah mengenai info mendadak dari panitia PKKMB, seperti postingan pada 7 September. Postingan tersebut bertuliskan ‘kakak panitia saran aja, buat pengumuman apapun jangan terlalu mendadak dan jangan dijadikan tradisi bahwa polinema ki mendidik dan mendadak wkwk, terus kayak buku panduan dll kalau bisa di share itu udah lengkap semua ya kaka jangan separo separo, yuk bebenah yuk (ga nyolot)’. BEM pun merespon hal tersebut dengan pernyataan, “Adanya nota dinas menunjukkan bahwa kegiatan tersebut sudah mendapatkan legalitas dari pihak kampus. Proses pengurusan surat tersebut juga tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu satu atau dua hari. Karena itu, kami mempertimbangkan berbagai hal dan berupaya agar informasi yang diberikan tidak mendadak, sekaligus memastikan kegiatan tersebut memiliki legalitas yang dapat dipertanggungjawabkan,”  ucap Raihan Zaky.

Minimnya wadah resmi serta kurangnya informasi dari lembaga mahasiswa terkait wadah kritik dan saran membuat sebagian mahasiswa baru akhirnya menjadikan @polinemafess sebagai alternatif untuk menyuarakan keluhan dan keresahan mereka. “Karena dari panitia sendiri kan setelah menyelenggarakan acara juga nggak ngasih tempat kritik dan saran. Mungkin kalau misal ada kritik dan saran saya sampaikan di situ,” tutur N. Ia juga mengaku bahwa desakan dari teman-temannya turut membuat dirinya mantap mengirimkan pesan tersebut. Selain itu, hambatan mental untuk bersuara secara terbuka juga menjadi alasan kuat di balik maraknya kiriman anonim ini. Seperti yang diungkapkan A, mahasiswa Teknik Mesin, “Cuman mungkin mereka mikir kalo semisal di menfess bisa lebih cepet ke-blow up dan cepet terselesaikan. Yang kedua, menurutku mereka nggak punya keberanian buat ngomong langsung sih”.

Menanggapi ramainya isu yang berkembang terkait akun @polinemafess serta keluhan mahasiswa baru. BEM menjelaskan bahwa wadah penyampaian aspirasi di berbagai lembaga mahasiswa tidak kurang. BEM sendiri menjelaskan bahwa mereka mempunyai wadah pengadvokasian bernama Tenda Advokasi. Selain itu, BEM pun menjelaskan bahwa Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) juga memiliki ranah masing-masing untuk menampung aspirasi dari mahasiswa jurusan terkait. BEM pun menjelaskan bahwa jika mahasiswa memiliki aspirasi dan disampaikan ke @polinemafess tidak akan bisa ditanggapi karena tidak ada jalur pengadvokasiannya. “Ketika aspirasi disampaikan melalui Polinema Menfess, itu tidak bisa langsung ditanggapi karena tidak ada jalur pengadvokasiannya. Sementara itu, masing-masing lembaga eksekutif baik di tingkat jurusan maupun kampus memiliki jalur pengadvokasian. HMJ dapat menyampaikan aspirasi mahasiswa kepada pimpinan jurusan, sedangkan BEM dapat meneruskannya kepada pimpinan kampus. Jadi, jika mahasiswa ingin aspirasinya ditanggapi dan mendapatkan kejelasan terkait tindak lanjutnya, seharusnya aspirasi tersebut disampaikan melalui lembaga eksekutif yang sesuai dengan ranahnya,”  ujar Raihan Zaky selaku Presiden BEM Polinema. 

Selain tanggapan dari BEM, Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM), juga memberikan tanggapannya terkait isu atau keluhan mahasiswa baru Teknik Mesin yang menyampaikan di @polinemafess. HMM mengungkapkan bahwa mereka sangat terbuka jika ada mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasinya. HMM juga merespons isu kekerasan verbal yang diterima maba selama PKKMB dengan menjelaskan bahwa hal tersebut bukanlah bentuk perpeloncoan, melainkan pressing yang dilakukan dengan tujuan tertentu terhadap MABA. “Kalau dalam konteks teknik mesin, menurut saya pribadi hal itu masih diperlukan karena berkaitan dengan dunia pekerjaan nantinya. Kita tidak berbicara tentang dunia pekerjaan secara umum, tetapi fokus pada dunia pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kita, khususnya di industri teknik mesin” ujar Ignatius Nicholas, Ketua Umum HMM. Ia pun menambahkan jika hal tersebut dinilai masih kolot, HMM berterima kasih atas aspirasi yang disampaikan dan akan mendiskusikannya untuk menjadi bahan evaluasi ke depannya. Menurut HMM, penerapan hal tersebut di lingkungan teknik mesin masih diperlukan karena berkaitan dengan dunia kerja yang nantinya akan dihadapi mahasiswa, khususnya di industri teknik mesin. 

Bagi mahasiswa baru, Menfess menjadi salah satu pilihan ketika mereka merasa lebih nyaman menyampaikan pengalaman tanpa membuka identitas. Kondisi ini membuat Menfess tidak hanya berfungsi sebagai akun hiburan atau tempat berbagi pesan, tetapi juga berkembang menjadi ruang yang memunculkan persoalan-persoalan mahasiswa ke hadapan publik.

Meski demikian, perkembangan fungsi tersebut turut memunculkan perhatian terhadap bagaimana aspirasi yang disampaikan dapat ditindaklanjuti. Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Polinema menilai kemunculan menfess merupakan bagian dari dinamika kehidupan mahasiswa. Namun, di sisi lain DPM melihat masih ada mahasiswa yang belum mengetahui keberadaan jalur aspirasi resmi yang dapat digunakan untuk menyampaikan persoalan.

“Kalau untuk saat ini saya melihat fenomena ini, saya mengatakan bahwasanya inilah dinamika dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam lingkup di kampus,” ujar Ilhaq selaku Ketua Umum DPM Polinema. Ia juga menyebutkan bahwa DPM memiliki fungsi untuk menghimpun aspirasi mahasiswa dan menyampaikannya kepada pihak yang berkepentingan.

Menurut DPM, keberadaan menfess tidak serta-merta menunjukkan bahwa jalur aspirasi resmi tidak berjalan. Banyaknya mahasiswa yang menggunakan menfess justru dapat menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali kanal-kanal resmi yang tersedia. “Saya rasa dari teman-teman ini mungkin masih banyak yang belum tahu terkait dari DPM ini sendiri. Jadi, dari DPM ini dapat menghimpun aspirasi dari teman-teman mahasiswa secara keseluruhan,” ujar ilhaq.

Hal tersebut memperlihatkan adanya dua fungsi yang berbeda. @polinemafess dapat menjadi ruang awal bagi mahasiswa untuk menyampaikan pengalaman dan keresahan secara anonim, sedangkan lembaga mahasiswa memiliki mekanisme yang lebih jelas untuk membawa aspirasi tersebut menuju proses klarifikasi dan penyelesaian.

Dari sisi mahasiswa lama, keberadaan menfess juga dinilai tetap memiliki manfaat selama digunakan untuk menyampaikan persoalan yang memiliki kepentingan lebih luas. A, mahasiswa Teknik Mesin, menilai menfess dapat membantu mahasiswa menyampaikan keresahan, tetapi proses penyaringan menjadi hal yang penting agar ruang tersebut tidak dipenuhi persoalan yang bersifat personal atau tidak mendesak.

“Dari segi untuk mewadahi mahasiswa itu cukup ngebantu sih menurutku. Cuman yang bikin rusak itu gara-gara nggak disaring,” ujar A. Menurutnya, persoalan yang menyangkut kepentingan mahasiswa seperti kekerasan verbal layak menjadi perhatian dan disampaikan melalui menfess.

Pandangan mengenai perlunya penyaringan juga disampaikan oleh Ketua Umum HMM. Ia berharap Polinema Menfess tetap dapat berjalan sebagai ruang penyampaian aspirasi, tetapi pengelola perlu lebih cermat dalam menentukan kiriman yang termasuk aspirasi. “Ya, harapanku tetap dijalankan sesuai fungsinya sebagai penampung aspirasi. Jadi, kedepannya lebih difilter lagi terkait apa yang memang termasuk aspirasi,” ujarnya.

Di sisi lain, BEM juga menilai bahwa keberanian mahasiswa untuk menyampaikan pengalaman merupakan hal yang positif. Namun, ketika aspirasi tersebut tidak berhenti pada publikasi dan membutuhkan hasil nyata, penyampaiannya perlu diarahkan kepada pihak yang dapat melakukan advokasi. “Sebetulnya cukup bagus sebagai awalan untuk membuat mahasiswa berani menyampaikan. Cuma ketika disampaikan di Polinema Menfess dan tidak ada tindak lanjut, alangkah lebih baik aspirasinya diarahkan ke pihak yang memang bisa mengadvokasikan dan memberikan hasil secara nyata,” ujar Raihan Zaky. Ia menilai aspirasi yang muncul melalui Menfess dapat diarahkan kepada pihak yang mampu mengaspirasikan dan memberikan hasil secara nyata.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keberadaan ruang aspirasi tidak hanya soal tersedianya tempat untuk berbicara, tetapi juga tentang bagaimana suara tersebut dapat didengar dan ditindaklanjuti. Polinema Menfess dapat menjadi pintu awal bagi mahasiswa untuk menyampaikan keresahan, sementara jalur advokasi di lembaga mahasiswa menjadi bagian penting agar keresahan tersebut tidak berhenti sebagai unggahan di media sosial. Pada akhirnya, suara mahasiswa tidak cukup hanya didengar. Aspirasi perlu dikawal dan ditindaklanjuti agar tidak berhenti sebagai unggahan, tetapi benar-benar menghasilkan perubahan.

 

(Eka Wahyu Prasetyo, Erinna Putri Sutanto, Rahma Faradhina Muthmainah)

 

Post View : 71

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *