Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141
Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com


“Loh, Polinema Ada KKN?”
Pertanyaan itu muncul setelah Politeknik Negeri Malang (Polinema) mengunggah poster ucapan selamat kepada mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Instagram pada 31 Juli 2026. Sejumlah mahasiswa hingga alumni mengaku baru mengetahui keberadaan program tersebut. Kabar ini cukup mengejutkan mengingat Polinema merupakan perguruan tinggi vokasi yang lekat dengan pendidikan praktik dan dunia industri. Di balik kemunculannya yang terkesan tiba-tiba, program ini ternyata telah diwacanakan Polinema sejak beberapa tahun sebelumnya.
KKN merupakan program Polinema yang menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Pelaksanaannya berada di bawah koordinasi Wakil Direktur I dan Wakil Direktur III dengan Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) yang berada di bawah koordinasi Wakil Direktur I. Dalam pelaksanaannya, KKN melibatkan mahasiswa lintas jurusan dengan pendampingan dosen. Pada tahun pertama pelaksanaannya ini, Polinema menentukan lokasi dan tema program berdasarkan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa kemudian ditempatkan dalam kelompok multidisiplin agar kompetensi dari berbagai bidang dapat diterapkan dalam program yang dijalankan.
Wakil Direktur I Polinema, Prof. Ir. Ratih Indri Hapsari, S.T., M.T., Ph.D., IPM, menjelaskan bahwa pelaksanaan KKN membutuhkan sejumlah penyesuaian termasuk dengan sistem perkuliahan Polinema yang menggunakan mata kuliah paket. Namun, pelaksanaannya baru dapat diwujudkan pada 2026 karena membutuhkan sejumlah penyesuaian, termasuk dengan sistem perkuliahan Polinema yang menggunakan mata kuliah paket.
“Memang ada wacana, tetapi implementasinya memang nggak gampang,” jelas Ratih.
Persoalan lain muncul pada pengakuan kegiatan dalam Satuan Kredit Semester (SKS). KKN yang belum diwajibkan bagi seluruh mahasiswa membuat peserta dapat berasal dari semester berbeda, sehingga pengakuannya perlu disesuaikan dengan program studi masing-masing.
“Kalau tidak diprogramkan sebagai mata kuliah wajib untuk semua prodi, untuk semua mahasiswa dalam angkatan tertentu, memang agak sedikit sulit laporannya,” ujarnya.
Meski demikian, KKN tetap dipandang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di perkuliahan pada persoalan nyata di masyarakat. Selain kompetensi akademik, mahasiswa juga diharapkan mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, kemandirian, dan pemecahan masalah.
KKN perdana resmi dibuka pada 27 Juli 2026 melalui pembekalan mahasiswa. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 2 Agustus 2026, sebanyak 61 mahasiswa dari tujuh jurusan diterjunkan kepada masyarakat di Desa Tulus Besar, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Karena baru pertama dilaksanakan, lokasi dan tema program ini masih ditentukan oleh institusi.
Pada pelaksanaan perdana ini, proses pemilihan peserta belum dilakukan melalui pendaftaran terbuka di media sosial, melainkan diserahkan kepada masing-masing jurusan dan program studi. Di beberapa program studi, kesempatan mengikuti KKN dibuka bagi mahasiswa minimal semester lima yang berminat, sementara di program studi lain peserta dapat direkomendasikan oleh dosen sesuai kebutuhan program.
“Memang tidak kita open atau share di media sosial seperti Instagram karena proses recruitment-nya kami titipkan pada ketua jurusan masing-masing,” jelas Ratih.
Minimnya informasi mengenai rekrutmen turut menjelaskan mengapa keberadaan KKN baru diketahui sebagian mahasiswa setelah unggahan pelepasan peserta muncul. Ratih bahkan mendapat pertanyaan serupa setelah membagikan informasi KKN melalui media sosialnya.
“Saya juga ada yang sempat nanya ketika saya posting di story saya, ‘loh Polinema ada KKN?’” ujarnya.
Dalam pelaksanaan KKN perdana, Polinema turut melibatkan UKM Bhakti Karya Mahasiswa (BKM), khususnya melalui Program Bakti Mahasiswa (PBM). Keterlibatan ini bermula dari usulan Wakil Direktur I dalam rapat persiapan KKN. Sebelumnya, BKM tidak dilibatkan dalam perencanaan karena KKN merupakan program di bawah koordinasi Wakil Direktur I. Namun, pengalaman BKM dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat menjadi pertimbangan untuk menggandeng organisasi tersebut.
Ketua Umum BKM, Mokhamad Robiyanto, mengatakan keterlibatan BKM berlangsung cukup mendadak. BKM diminta mendata anggota yang akan membantu pelaksanaan di desa. Namun, menjelang pelaksanaan, anggota yang telah didaftarkan kemudian dikonversi menjadi peserta KKN untuk mewakili jurusannya masing-masing. Sekitar lima anggota BKM kemudian masuk dalam daftar 61 peserta KKN.
Di sisi lain, BKM turut mendukung kebutuhan material karena anggaran Wadir I difokuskan untuk uang saku mahasiswa. Ratih menjelaskan, “Anggaran dari Wadir I ini hanya untuk uang saku mahasiswanya, tetapi karena programnya ini kebetulan untuk revitalisasi, kita butuh beberapa pembelanjaan biaya bahan. Nah, bahannya ini yang anggarannya ada di BKM.”
Robiyanto menilai waktu persiapan yang singkat menjadi kendala dalam kolaborasi tersebut. Robiyanto berharap BKM dapat dilibatkan sejak tahap awal apabila kolaborasi serupa kembali dilakukan agar persiapan program dapat dilakukan lebih matang. “Kalau bisa, memang benar-benar dikasih tahu terlebih dahulu. Karena biar dari BKM-nya sendiri bisa memusyawarahkan terkait hal itu dan bisa mencari massa apabila nantinya akan berkolaborasi lagi,” ujar Robiyanto.
Ke depan, mekanisme pelaksanaan KKN direncanakan lebih terbuka. Mahasiswa dapat memiliki ruang untuk menentukan kelompok dan tema, melakukan survei, hingga mengajukan proposal kepada Polinema. Wakil Direktur I juga berharap pelaksanaan berikutnya dapat melibatkan lebih banyak program studi dan dilakukan secara rutin dengan tata kelola yang semakin baik.
“Saya yakin dengan keberangkatan mahasiswa yang saat ini sudah di lapangan itu menjadi langkah awal yang baik,” ujar Ratih.
Pelaksanaan KKN perdana ini menjadi pengalaman baru bagi Polinema dalam menjalankan pengabdian masyarakat yang melibatkan mahasiswa lintas jurusan. Berbagai kekurangan selama pelaksanaan akan menjadi catatan untuk KKN berikutnya.
(Chindi Sentia Wulandari, Nur Martha Putri Pramantia)