Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Kunjungan OKI 2026: Menengok Tiga PSDKU Polinema, dari Aspirasi hingga Persoalan Organisasi

OKI Polinema Pusat Berfoto Bersama OKI PSDKU Kediri Usai Melakukan Kunjungan dan Diskusi untuk Menyerap Aspirasi Mahasiswa di PSDKU Kediri (Sumber: Dokumentasi Istimewa)

Organisasi Kemahasiswaan Intra (OKI) Politeknik Negeri Malang (Polinema) melakukan kunjungan ke tiga Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) pada 19 hingga 21 Agustus 2026. Kunjungan tersebut menyasar PSDKU Pamekasan, Lumajang, dan Kediri sebagai bagian dari upaya OKI Pusat untuk mempererat komunikasi sekaligus menyerap aspirasi mahasiswa di masing-masing PSDKU.

Kunjungan tersebut melibatkan 14 mahasiswa perwakilan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), sejumlah himpunan mahasiswa jurusan (HMJ), serta unit kegiatan mahasiswa (UKM) di lingkungan Polinema. Mereka berasal dari BEM, DPM, Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HMA), Himpunan Mahasiswa Elektro (HME), Himpunan Mahasiswa Teknologi Informasi (HMTI), Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS), Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK), Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM), UKM Kerohanian Islam (RISPOL), UKM Pasukan Anti Narkoba (PASTI), Lembaga Pers Mahasiswa KOMPEN, serta UKM Olahraga (OR).

Kunjungan ini sejak awal ditujukan untuk menyerap aspirasi. Namun, pertemuan dengan organisasi mahasiswa di tiga PSDKU tersebut juga membuka cerita tentang bagaimana mahasiswa menjalankan kegiatan akademik dan organisasi dengan kondisi yang berbeda dari Kampus Polinema Pusat.

Wakil Presiden BEM Polinema, Lia Rahmawati, mengatakan jika komunikasi antara OKI Pusat dan PSDKU sebenarnya sudah berjalan. Namun, komunikasi tersebut selama ini lebih banyak dilakukan melalui ketua umum maupun fungsionaris organisasi sehingga dinilai belum cukup masif untuk menyerap seluruh aspirasi mahasiswa PSDKU. Karena itu, kunjungan secara langsung menjadi kesempatan untuk mendengar cerita yang mungkin belum tersampaikan melalui komunikasi sebelumnya. “Tujuan utama adalah untuk menyerap secara langsung aspirasi-aspirasi dari teman-teman, khususnya Ormawa atau OKI yang ada di PSDKU,” ujar Lia.

Selain menyerap aspirasi, kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan bagi OKI Pusat untuk melihat kondisi lingkungan kampus secara langsung. Lia menyebut kondisi fasilitas, organisasi, dan lingkungan kampus di PSDKU memiliki perbedaan dengan Kampus Polinema Pusat.

Dari tiga PSDKU yang dikunjungi, persoalan transparansi dan komunikasi menjadi salah satu hal yang paling banyak disampaikan. Lia mengatakan organisasi mahasiswa masih menghadapi kendala dalam memperoleh informasi terkait pendanaan, birokrasi, serta alur administrasi dengan pihak akademik maupun manajemen kampus.

“Yang paling sering dan yang paling utama dikeluhkan adalah terkait dengan transparansi dan juga komunikasi antara teman-teman OKI di PSDKU dengan pihak akademik atau manajemen kampusnya. Dari pihak akademik atau manajemen kampus ini dinilai masih kurang memberikan informasi yang terbuka kepada teman-teman OKI di PSDKU,” jelas Lia.

Persoalan tersebut kemudian terlihat dalam berbagai cerita dari organisasi mahasiswa di masing-masing PSDKU. Di Pamekasan, misalnya, masih ada fasilitas umum yang belum terpenuhi untuk mendukung kegiatan mahasiswa. Kondisi tersebut mencakup kebutuhan tempat kegiatan hingga sekretariat organisasi.

Ketua Umum DPM Polinema, Muhammad Afshohil Haq, mengatakan persoalan fasilitas tersebut menjadi salah satu aspirasi yang akan dikaji dan disampaikan kepada pimpinan. Sementara di PSDKU Lumajang, persoalan yang disampaikan berkaitan dengan alur Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan ketidakjelasan jumlah pendanaan.

“Kalau berbicara kondisi, ada banyak hal yang mengkhawatirkan, terutama di Kampus Pamekasan. Banyak fasilitas umum yang belum terpenuhi untuk penyelenggaraan kegiatan. Contohnya mulai dari kegiatan Prastudi dan LDK, termasuk tempat kegiatan dan sekretariat yang belum tersedia. Di Lumajang sendiri, kendalanya terkait alur DIPA dan jumlah pendanaan yang juga masih belum jelas. Hal ini yang masih kami tindak lanjuti terkait aspirasi dari teman-teman OKI di sana,” terangnya.

Cerita lain datang dari mahasiswa Sipil PSDKU Lumajang. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sipil Polinema Pusat, Christian Putra Maharani, mengatakan jika mahasiswa Sipil di sana masih menghadapi keterbatasan fasilitas praktik hingga harus datang ke Kampus Polinema Pusat untuk melakukan uji laboratorium. Namun, keberangkatan tersebut sempat terkendala persoalan transportasi karena pihak kampus PSDKU sebelumnya tidak menyetujuinya lantaran tidak tersedia transportasi dari pusat. Menurut Christian, persoalan tersebut kemudian disampaikan oleh ketua umum HMS PSDKU kepada Ketua Program Studi (KPS), yang selanjutnya meneruskannya ke pihak pusat hingga mahasiswa akhirnya mendapatkan transportasi berupa bus dari Kampus Polinema Pusat.

Bagi Christian, kondisi tersebut menunjukkan perlunya koordinasi yang lebih jelas antara PSDKU dan pusat. Ia pun berencana menyampaikan kondisi tersebut kepada Ketua Jurusan (Kajur) Sipil agar mahasiswa PSDKU Lumajang mendapat perhatian dari jurusan pusat, baik dalam hal akademik maupun organisasi. “Saya sendiri tergerak untuk menyampaikan kepada Kajur Sipil, terutama karena kondisi di PSDKU juga masih minim. Mereka juga perlu mendapatkan perhatian dari Jurusan Sipil Pusat, baik terkait akademik, non akademik, maupun organisasi,” ujarnya.

Keterbatasan fasilitas juga ditemukan pada mahasiswa Teknik Mesin. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Mesin Polinema Pusat, Ignatius Nicholas, mengatakan alat praktik di PSDKU Lumajang dan Pamekasan masih menjadi kendala. Di Pamekasan, keterbatasan alat praktik bahkan membuat dosen harus patungan untuk membeli mesin bubut. Selain fasilitas, mahasiswa juga menyampaikan kendala dalam pelaksanaan pembelajaran melalui Zoom yang dinilai belum maksimal dan kurang jelas.

Dari sisi organisasi, Ignatius juga menemukan persoalan transparansi di Dosen Pembina Kemahasiswaan (DPK), termasuk terkait asistensi proposal dan kebutuhan organisasi lainnya. “Dari ketiga PSDKU yang sudah dikunjungi, keluhan yang paling dominan adalah terkait DPK. Dari yang saya tangkap, DPK masih kurang transparan, apalagi terkait tidak adanya asistensi proposal atau asistensi lainnya, itu juga belum ada transparansi,” jelas Ignatius.

Persoalan yang muncul dalam kunjungan ini tidak hanya berkaitan dengan fasilitas dan kebutuhan akademik. Kondisi organisasi mahasiswa di PSDKU juga menjadi bagian dari pembahasan, termasuk soal jumlah anggota dan pendanaan. Hal tersebut salah satunya ditemukan pada UKM Pasukan Anti Narkoba (PASTI) di PSDKU Kediri. Ketua Umum PASTI Polinema Pusat, Laili Sabrina Fausta Novianto, mengatakan keterbatasan sumber daya manusia dan pendanaan masih menjadi kendala bagi PASTI di PSDKU Kediri.

Meski begitu, kegiatan organisasi tetap berjalan. PASTI PSDKU Kediri memiliki program berupa webinar yang bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN). Sementara itu, PASTI Pusat lebih banyak menjalankan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat serta pelajar SMP dan SMA. Perbedaan bentuk kegiatan tersebut turut dibahas dalam pertemuan antara PASTI Pusat dan PASTI PSDKU Kediri. Setelah kunjungan, Laili mengatakan koordinasi antara PASTI Pusat dan PSDKU Kediri akan tetap dilanjutkan, meski belum ada rencana kerja sama khusus.

Berbagai temuan tersebut kemudian menjadi bahan bagi OKI Pusat untuk menentukan langkah setelah kunjungan. BEM Polinema berencana membantu menjadi perantara komunikasi antara organisasi mahasiswa PSDKU dengan pihak terkait. Lia mengatakan BEM Polinema Pusat akan mencoba mencari informasi terkait pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban dari pihak pimpinan atau manajemen kampus. Proses tersebut akan menyesuaikan dengan agenda BEM dan ketersediaan pihak-pihak yang perlu ditemui. Ia memperkirakan proses komunikasi tersebut dapat berlangsung hingga sekitar dua bulan.

DPM Polinema juga akan mengkaji aspirasi yang diterima sebelum menyampaikannya kepada pimpinan. Afshohil mengatakan DPM akan terus melakukan follow-up terhadap aspirasi tersebut hingga akhir periode kepengurusan. “Harapan ke pimpinan, saya harap keluh kesah dari teman-teman ini dapat ditindaklanjuti dengan wujud yang nyata dan tidak hanya sebatas omongan saja, jadi dengan bukti nyata,” ujar Afshohil.

Bagi organisasi mahasiswa di PSDKU, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi yang lebih dekat dengan OKI Pusat. Wakil Koordinator BEM PSDKU Polinema Kabupaten Lumajang, Bima Nur Solikhin, menilai kunjungan tersebut menjadi salah satu langkah awal bagi organisasi mahasiswa di PSDKU Lumajang untuk berkembang.

Ia berharap komunikasi antara OKI Pusat dan PSDKU dapat terus berjalan setelah kunjungan selesai. “Harapannya nanti program ini terus berkembang dan berkelanjutan sampai nanti bisa terjalin komunikasi yang sangat baik antara Kampus Lumajang dan Kampus Pusat di Malang,” ujar Bima.

Christian juga berharap hubungan antara mahasiswa di pusat dan PSDKU dapat berjalan selaras. Menurutnya, mahasiswa di kedua wilayah sama-sama menghadapi persoalan sehingga evaluasi dan perbaikan dapat dilakukan bersama. “Harapan saya, paling tidak untuk sekarang, antara Polinema pusat dan PSDKU bisa selaras. Jangan sampai ada hal yang tumpang tindih,” ucapnya.

Sementara itu, Afshohil berharap mahasiswa PSDKU tidak merasa minder atau dianaktirikan karena berada di luar Kampus Utama. Menurutnya, mahasiswa PSDKU dan mahasiswa pusat tetap berada dalam satu naungan Polinema. “Saya berharap teman-teman PSDKU tidak merasa minder dan tidak merasa dianaktirikan oleh teman-teman di pusat. Salah satu bentuknya adalah kami datang ke sana untuk mengambil aspirasi, memperkenalkan diri, dan menyambungkan hubungan antara OKI Pusat dengan OKI yang ada di PSDKU,” jelasnya.

Kunjungan selama tiga hari tersebut menjadi titik awal bagi OKI Pusat dan PSDKU untuk membangun komunikasi yang lebih dekat. Bagi mahasiswa PSDKU, kunjungan ini menjadi ruang untuk menyampaikan kondisi yang mereka hadapi secara langsung. Sementara bagi OKI Pusat, berbagai aspirasi yang muncul menjadi pekerjaan lanjutan untuk dikomunikasikan dan ditindaklanjuti bersama pihak terkait.

 

(Elsa Tri Meida Ananta)

 

Post View : 15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *