Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141
Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com


Bagi sebagian orang kuliah hanya dipandang sebagai tempat untuk mencari gelar sarjana. Seolah-seolah, keberhasilan kuliah hanya diukur melalui selembar ijazah dan deretan huruf dibelakang nama. Pandangan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Kuliah sejatinya adalah proses panjang yang melibatkan pengalaman, pembelajaran, dan pembentukan karakter. Gelar hanyalah salah satu dari hasil akhir perjalanan panjang di perkuliahan, jika hanya terpaku pada selembar ijazah maka mahasiswa akan kehilangan esensi dari kuliah itu sendiri.
Di berbagai perguruan tinggi, capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sering kali dijadikan tolak ukur utama keberhasilan seorang mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa harus memperoleh nilai setinggi mungkin demi mempertahankan beasiswa, memenuhi persyaratan organisasi, atau meningkatkan peluang kerja setelah lulus. Kondisi tersebut membuat sebagian mahasiswa lebih berorientasi pada hasil akhir daripada proses belajar yang seharusnya dijalani. Nilai akademik memanglah penting, tetapi dunia kerja tidak hanya melihat dari nilai akademik saja. Lebih dari sekadar mengejar nilai dan gelar, perkuliahan juga menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, serta karakter yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia kerja.

Orientasi terhadap nilai dapat mempengaruhi cara mahasiswa belajar. Sebagian mahasiswa memilih menghafal materi menjelang ujian tanpa benar-benar memahami konsep yang dipelajari. Setelah ujian selesai, materi yang telah dipelajari pun perlahan terlupakan. Pola belajar seperti ini menunjukkan bahwa tujuan belajar bergeser dari memahami ilmu menjadi sekadar memperoleh nilai yang baik. Salah satu fenomena yang sering dijumpai di kalangan mahasiswa adalah “belajar kebut semalam atau sistem kebut semalam(SKS)”, dimana sebelum waktu belajar yang seharusnya dilakukan secara bertahap selama satu semester justru dipadatkan dalam waktu singkat menjelang ujian. Meskipun cara ini terkadang mampu membantu mahasiswa memperoleh nilai yang baik, pemahaman yang diperoleh sering kali hanya bertahan dalam jangka pendek sehingga materi mudah dilupakan setelah ujian berakhir.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui konsep Deep Learning dan Surface Learning. Deep learning merupakan pendekatan belajar yang berorientasi pada pemahaman konsep secara mendalam, dimana mahasiswa berusaha menghubungkan materi dengan pengetahuan sebelumnya serta mampu menerapkannya dalam situasi yang berbeda. Sebaliknya, Surface Learning merupakan pendekatan belajar yang lebih berfokus pada menghafal informasi demi memenuhi tuntutan ujian atau memperoleh nilai yang baik, tanpa memahami makna dari materi yang dipelajari.
Nilai akademik merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur capaian belajar mahasiswa. Namun, nilai seharusnya menjadi hasil dari proses belajar yang baik, bukan tujuan utama yang menggeser makna pendidikan itu sendiri. Ketika mahasiswa hanya berfokus pada pencapaian angka, maka proses memahami materi, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta membangun keterampilan yang dibutuhkan di masa depan berisiko terabaikan. Perguruan tinggi bukan sekadar tempat untuk memperoleh gelar atau menyusun transkrip nilai yang baik, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter, memperluas wawasan, dan mengembangkan kompetensi yang akan menjadi bekal dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia kerja. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk memandang nilai sebagai salah satu bentuk evaluasi atas proses belajar, bukan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan selama menempuh pendidikan tinggi. Pada akhirnya, esensi kuliah bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai yang berhasil diraih, melainkan tentang seberapa besar ilmu, pengalaman, dan kemampuan yang diperoleh selama menjalani proses tersebut.
Dengan menjadikan pembelajaran sebagai tujuan utama, mahasiswa tidak hanya siap menghadapi ujian di ruang kelas, tetapi juga berbagai tantangan yang akan ditemui setelah lulus dari perguruan tinggi. Sebagaimana tujuan utama pendidikan tinggi, kuliah bukan sekadar perjalanan untuk mengejar nilai atau memperoleh gelar, melainkan proses panjang dalam membentuk pribadi yang berilmu, berkarakter, dan siap memberikan kontribusi bagi masyarakat. Dengan demikian, sudah saatnya mahasiswa memandang nilai sebagai bagian dari perjalanan belajar, bukan sebagai akhir dari tujuan pendidikan itu sendiri.
(Aura Aulia Slavina)