Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141
Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Media sosial kembali menjadi ruang lahirnya sebuah gerakan digital. Dalam beberapa waktu terakhir, tagar #BuyIndonesia dan #SellSingapore ramai diperbincangkan di berbagai platform, mulai dari X hingga TikTok. Apa yang awalnya berangkat dari pembahasan ekonomi dan investasi kini berkembang menjadi percakapan publik yang melibatkan banyak kalangan, terutama generasi muda.
Fenomena ini bermula dari munculnya narasi “Sell Indonesia” yang ramai dibahas oleh sejumlah analis dan media internasional. Narasi tersebut menggambarkan kekhawatiran sebagian investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia sehingga muncul anggapan bahwa aset-aset Indonesia kurang menarik dibandingkan negara lain. Isu yang sebelumnya hanya beredar di kalangan investor dan pelaku pasar itu ternyata dengan cepat menyebar ke media sosial dan menjadi perhatian masyarakat luas.
Alih-alih menerima narasi tersebut begitu saja, banyak warganet Indonesia justru menunjukkan respons yang berbeda. Mereka ramai mengajak masyarakat untuk lebih mendukung produk lokal, UMKM, serta investasi dalam negeri. Berbagai unggahan yang bernada optimistis bermunculan sebagai bentuk kepercayaan terhadap potensi ekonomi nasional. Respons tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan digital yang menyebar luas dan mendapat dukungan dari berbagai kalangan.
Menariknya, perbincangan ini tidak hanya berlangsung di platform X, tetapi juga meluas ke TikTok, Instagram, dan media sosial lainnya. Berbagai video edukasi, opini, hingga analisis sederhana mengenai ekonomi nasional mulai memenuhi lini masa. Banyak kreator konten menjelaskan bagaimana pilihan konsumsi masyarakat dapat memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi, sekaligus mengajak audiens untuk lebih mengenal dan mendukung produk dalam negeri.
Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang generasi muda terhadap isu ekonomi. Jika dulu topik investasi, pasar modal, atau arus modal asing dianggap rumit dan jauh dari kehidupan sehari-hari, kini semakin banyak anak muda yang mulai mengikuti perkembangan ekonomi nasional. Berkat kemudahan akses informasi melalui media sosial, generasi muda menjadi lebih sadar bahwa keputusan ekonomi tidak hanya berdampak pada investor, tetapi juga pada lapangan pekerjaan, pertumbuhan usaha lokal, dan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Tidak sedikit pula warganet yang mengajak masyarakat untuk lebih selektif dalam menggunakan produk maupun layanan digital. Beberapa bahkan mendorong penggunaan aplikasi dan platform yang dinilai dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian Indonesia. Meskipun masih menjadi perdebatan di ruang digital, ajakan tersebut mencerminkan tumbuhnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mendukung ekosistem ekonomi nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Di balik ramainya diskusi tersebut, muncul pandangan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki modal yang besar untuk berkembang. Kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk yang mencapai ratusan juta jiwa, serta besarnya pasar domestik dianggap sebagai kekuatan yang dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Kesadaran inilah yang kemudian mendorong banyak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih memperhatikan bagaimana uang dibelanjakan dan ke mana keuntungan ekonomi akhirnya mengalir.
Ramainya perbincangan mengenai kondisi investasi Indonesia juga mendapat tanggapan dari Presiden Prabowo Subianto. Saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Prabowo membantah anggapan bahwa Indonesia tidak diminati investor asing. “Ada yang mengatakan Prabowo tidak suka dan nanti akan mengusir investor-investor asing. Ternyata tidak seperti itu. Saya ketemu banyak investor-investor yang akan masuk.” Menurut Prabowo, pemerintah tetap membuka peluang investasi asing selama berjalan sesuai aturan yang berlaku dan memberikan manfaat bagi pembangunan nasional. Pernyataan tersebut menjadi respons terhadap berbagai spekulasi yang berkembang terkait menurunnya minat investor terhadap Indonesia.
Lebih dari sekadar tren media sosial, fenomena ini memperlihatkan tumbuhnya kesadaran ekonomi di kalangan generasi muda. Mereka tidak lagi hanya menjadi penonton dalam isu-isu ekonomi nasional, tetapi mulai terlibat dalam diskusi, menyampaikan pendapat, hingga mengampanyekan dukungan terhadap produk dan usaha lokal. Meskipun bentuknya sederhana, gerakan tersebut menunjukkan adanya keinginan untuk turut berkontribusi dalam pembangunan ekonomi bangsa.
Pada akhirnya, viralnya perdebatan mengenai kondisi investasi Indonesia tidak hanya melahirkan berbagai tagar dan unggahan di media sosial. Di baliknya, terdapat semangat baru yang menunjukkan bahwa semakin banyak anak muda yang peduli terhadap masa depan ekonomi negara. Kesadaran inilah yang menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus tumbuh, tidak hanya melalui kebijakan pemerintah atau investasi asing, tetapi juga melalui dukungan dan partisipasi aktif masyarakatnya sendiri.
(Najla Shadzwina)