Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Blonde: Kedewasaan dalam Keheningan

Album Blonde Frank Ocean (Sumber: Wikipedia)

Judul Album: Blonde

Pencipta Album: Frank Ocean

Durasi: 60:08 Menit

Genre: R&B, Avant-soul, Psychedelic pop

Tahun Rilis: 2016

Bahasa: Inggris

Label: Boys Don’t Cry

 

Lahir dari ekspektasi publik yang menyesakkan setelah kesuksesan Channel Orange (2012),  Blonde muncul pada tahun 2016 sebagai sebuah pernyataan artistik yang sangat personal. Album ini diciptakan di tengah konflik kontrak yang rumit dengan label lamanya, Def Jam, yang  akhirnya mendorong Frank untuk merilis Endless sebagai formalitas dan Blonde secara  independen. Latar belakang penciptaannya adalah tentang kebebasan, baik secara finansial  maupun kreatif. Frank ingin mengeksplorasi dualitas identitas (terlihat dari penulisan judul  “Blonde” di sampul tetapi “Blond” secara resmi), memori masa muda, dan patah hati yang tidak  lagi meledak-ledak, melainkan tersimpan dalam sunyi.

Kelebihan Album Blonde 

Kelebihan utama pada album ini terletak pada keberaniannya untuk minimalis. Frank membuang struktur drum tradisional R&B dan menggantinya dengan aransemen gitar yang melodramatis dan synthesizer yang atmosferik. Dalam segi vokal Frank memanipulasi suaranya menggunakan pitch shifting (seperti pada lagu Nikes) mempresentasikan dari perspektif dia yang berbeda, suara masa muda yang naif melawan suara dewasa yang letih. Pada penulisannya, Frank menulis dengan cara non-linear. Dalam lagu Self Control atau Ivy, ia menangkap esensi nostalgia tanpa terasa murahan. Ia bercerita tentang kehilangan dengan cara yang sangat spesifik tapi terasa universal. Frank mencoba bereksperimen pada penggunaan organ, petikan gitar yang mentah, hingga sample percakapan (seperti dalam Be Yourself). Eksperimen ini memberikan tekstur avant-garde yang jarang ditemukan di album. Album ini memaksa pendengar untuk berhenti sejenak dan benar-benar mendengarnya.

Kekurangan Album Blonde

Meskipun dipuji secara kritis, Blonde bukanlah album yang mudah dinikmati dalam sekali dengar, terutama bagi mereka yang mencari hook yang catchy. Kurangnya kohesi dalam album ini terdengar tidak natural, struktur lagu seperti verse-chorus nya. Album ini bisa terasa membingungkan, beberapa bagian terasa seperti sketsa yang belum selesai atau transisi yang terlalu panjang seperti Facebook Story. Album ini juga terlalu abstrak dan ambisius, terkadang makna liriknya terlalu terkubur dalam metafora yang sangat personal bagi Frank sendiri, sehingga pendengar mungkin merasa terasing dari pesan yang ingin disampaikan. Ada garis tipis antara “artistik” dan “terlalu rumit untuk dipahami” dan di beberapa titik, album ini hampir melampaui garis tersebut. 

Kesimpulan 

Blonde adalah adalah potret jujur tentang transisi menuju kedewasaan yang berantakan, penuh  keraguan, namun tetap indah. Album ini tetap relevan karena ia tidak mencoba menjadi modern, tetapi ia ingin mencoba menjadi abadi.

Daftar Lagu

No. Judul Durasi
1. Nikes 5.14
2. Ivy 4.09
3. Pink + White 3.04
4. Be Yourself 1.26
5. Solo 4.17
6. Skyline To 3.04
7. Self Control 4.09
8. Good Guy 1.06
9. Nights 5.07
10. Solo (Reprise) 1.18
11. Pretty Sweet 2.38
12. Facebook Story 1.08
13. Close to You 1.25
14. White Ferrari 4.08
15. Seigfried 5.34
16. Godspeed 2.57
17. Futura Free 9.24

 

(R. Adityo Nugroho)

 

Post View : 7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *