Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141
Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com


Judul Novel: Orang-Orang Proyek
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2002
Genre: Fiksi, Literatur Indonesia, Drama
Jumlah Halaman: 224 Halaman
ISBN: 978-979-22-2581-5
Orang-Orang Proyek, merupakan novel kedua karya sastrawan ternama Indonesia Ahmad Tohari. Pertama kali dirilis pada tahun 2002 dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Novel ini menggambarkan realitas sosial, moral, dan politik Indonesia dengan memperlihatkan kebobrokan yang telah meresap ke segala lapisan, menjadikan praktik curang sebagai sesuatu yang lumrah dan diterima begitu saja.
Kelebihan
Disampaikan dengan bahasa yang sederhana namun tetap lugas dan mendalam menggambarkan latar pedesaan yang hidup, seperti suasana sejuk, asri, serta narasi tentang falsafah Jawa, kearifan lokal, hingga sentuhan takhayul sukses memperkaya cerita. Konflik batin Kabul sebagai insinyur idealis yang terjebak dalam budaya korupsi tersampaikan dengan baik. Salah satu kekuatan novel ini adalah tokoh-tokohnya yang terasa hidup dan membumi. Tak hanya Kabul, tetapi para pekerja proyek dari berbagai latar belakang turut memberi warna dan kedalaman. Dengan adanya proyek pembangunan bukan hanya menjadi pekerjaan, melainkan sumber harapan bagi banyak orang. Maka ketika proyek selesai, pembaca turut merasakan kehampaan dan kehilangan. Menyuguhkan kritik sosial yang tajam dan berani, seperti budaya proyek yang baru digerakkan menjelang pemilu, kelalaian pemerintah atas infrastruktur yang membahayakan warga serta menyoroti budaya feodalisme membuat kejujuran justru tersingkir. Korupsi digambarkan bukan hanya sebagai masalah moral, melainkan sesuatu yang telah mengakar dalam struktur sosial negara ini.
Kekurangan
Meski cerita kuat menggambarkan realitas korupsi dalam proyek pemerintah, penyelesaian konflik utama terasa kurang tegas, seolah membiarkan keburukan sistem berjalan tanpa solusi dan menegaskan bahwa di dunia nyata, ketidakadilan tak selalu menemukan akhir yang adil. Hal ini mungkin membuat beberapa pembaca merasa akhir cerita menggantung.
Kesimpulan
Novel ini mengelupas realitas kelam di balik proyek infrastruktur di Indonesia, di mana dana yang dikorupsi menyebabkan bangunan seperti jalan atau jembatan ambruk dalam waktu singkat, bahkan memakan korban jiwa. Melalui kisah Kabul, menggambarkan dilema berat antara memegang disiplin ilmu keteknikan atau menyerah pada sistem korup yang merajalela, dengan taruhan mutu, umur, dan keamanan bangunan. Kabul menjadi representasi dari mereka yang tetap berusaha memegang teguh ilmu dan integritas meski harus berjalan sendirian. Dikemas dengan bahasa yang rinci, jelas, dan mudah dipahami, novel ini berhasil membungkus isu sosial, politik, budaya, dan kehidupan masyarakat desa dalam narasi yang menyentil, menggugah, sekaligus memiriskan, memperlihatkan perjuangan idealisme melawan realisme yang korup.
(Nur Martha Putri Pramantia)
Post View : 1198