Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Reaksi Mahasiswa Terhadap Penundaan PILDIR 2025 : Mahasiswa itu Customer, Bukan Objek Kebijakan

Polinema resmi menunda tahapan PILDIR 2025–2029 melalui Instagram @polinema_campus

Berdasarkan surat edaran nomor 10332/PL2/TP/2025, acara Pemilihan Direktur (PILDIR) Politeknik Negeri Malang (Polinema) 2025 resmi ditunda hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Melalui surat edaran tersebut, aksi penundaan ini dilakukan k arena belum terpenuhinya jumlah bakal calon yang memenuhi syarat untuk melanjutkan proses seleksi. Surat edaran tersebut dipublikasikan melalui Instagram resmi Polinema

Meski telah dipublikasikan secara resmi, informasi yang tersedia dianggap sangat minim dan tidak memberikan kejelasan mengenai tindak lanjut ataupun solusi yang akan diambil, serta dinilai hanya sekadar formalitas saja.  Situasi ini menuai berbagai reaksi, khususnya dari kalangan mahasiswa. Mereka menilai bahwa penundaan PILDIR ini tidak hanya berdampak pada aspek administratif, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan arah kebijakan kampus. Beberapa mahasiswa mengungkapkan bahwa informasi mengenai PILDIR sangat minim. Sehingga minimnya informasi serta belum jelasnya arah kebijakan tersebut membuat mahasiswa mempertanyakan transparansi dan urgensi dari agenda PILDIR ini. Selain itu, penundaan PILDIR dinilai dapat memberikan dampak terhadap organisasi mahasiswa karena belum adanya kejelasan arah dan birokrasi internal. Rizky, salah satu mahasiswa jurusan Teknik Sipil menyampaikan “sebenarnya sempat diposting oleh Polinema tapi cuma gitu aja, just info habis itu udah ga ada apa apa. Kita mau follow up juga tidak tahu jalannya bagaimana karena satu-satunya informasi hanya di akun Polinema Kampus dan website PILDIR Polinema. Cuman ada 2 wadah yang kita dapat informasi, tapi 2 wadah ini ga ada isinya jadi kita tidak tahu juga”.

Dalam situasi ini, mahasiswa mulai menyerukan perlunya audiensi terbuka antara mahasiswa, panitia PILDIR, dan para calon direktur (CADIR). Beberapa mahasiswa menilai suasana kampus yang tampak tenang di permukaan, bukan berarti tidak ada masalah didalamnya. “Jangan menganggap air yang tenang itu tidak berbahaya. Justru air yang tenang bisa lebih berbahaya daripada air deras,” ujar Rizky, menyoroti keresahan mahasiswa yang selama ini tidak terlihat secara kasat mata.

Mahasiswa menegaskan pentingnya peran mereka dalam proses PILDIR, bukan sekadar sebagai penonton. Mereka bukan sekedar objek kebijakan, melainkan customer yang berhak mendapatkan informasi dan pelayanan terbaik dari instansi. Farel salah satu mahasiswa jurusan Teknik Elektro juga menekankan bahwa mahasiswa tidak perlu takut untuk bersuara. “Mahasiswa harus sadar kita bukan objek, kita customer. Kalau kita speak up, ini bisa jadi pedang bermata dua untuk Polinema,” tegasnya. BEM dan DPM sebagai representasi mahasiswa juga diharapkan untuk mengambil langkah nyata dalam menyikapi kondisi ini. Tidak hanya sebagai perantara komunikasi, tetapi juga sebagai motor penggerak mahasiswa dalam mendorong transparansi dan percepatan proses PILDIR.

Di akhir penyampaiannya, Rizky menegaskan pentingnya keterlibatan aktif mahasiswa dalam dinamika kampus, khususnya terkait PILDIR 2025. Ia berharap para petinggi Polinema dapat lebih komunikatif dan terbuka terhadap aspirasi mahasiswa, serta tidak menjadikan mereka sekadar pihak yang pasif. “Satu-satunya cara untuk menjadi counter dari situasi ini adalah mahasiswa sendiri. Jadi kita harus berani speak up, ramaikan PILDIR,” tutur Rizky, menyerukan semangat partisipasi aktif sebagai bentuk kontrol kritis terhadap jalannya proses demokrasi kampus.

 

(Joevina Margaretha, Lely Yuniara)

 

Post View : 392

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *