Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Aspirasi Disampaikan untuk Raih Solusi demi Teknik Elektro yang Lebih Unggul

Wujudkan Perubahan Melalui Diskusi Demi Pendidikan yang Lebih Unggul (Sumber: Dokumen Istimewa)

Pendidikan yang berkualitas tidak hanya menuntut standar akademik yang tinggi dan dosen yang kompeten, tetapi juga memiliki fasilitas yang mencukupi. Namun, bagaimana jika fasilitas yang tersedia kurang memadai sehingga dapat menghambat proses pembelajaran akademik? Kondisi ini yang mendorong Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) menyelenggarakan Dialog Dosen Mahasiswa (DDM) yang bertempat di Auditorium Gedung Sipil Polinema Lantai 8 pada Senin, 02 Juni 2025.

Dengan tema “Salurkan Aspirasi, Kuatkan Sinergi, Wujudkan Jurusan Teknik Elektro yang Lebih Unggul”, acara ini diharapkan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyuarakan masukan demi mewujudkan Jurusan Teknik Elektro yang lebih baik.

Berbagai aspirasi yang mereka sampaikan berfokus pada isu-isu selama perkuliahan, meliputi kesenjangan nilai antara mahasiswa lokal dan internasional, penyampaian informasi pada media sosial jurusan, ketidakjelasan informasi alih jenjang dan lain sebagainya. Salah satu isu yang sering mereka sampaikan yaitu banyaknya fasilitas kampus yang rusak, koneksi internet yang lambat dan ketidaknyamanan di ruang kelas. Hal ini tentunya menjadi kendala besar dalam proses belajar mengajar antara mahasiswa dan dosen.

“Sebagai contoh, minimnya alat praktikum terutama pada mata kuliah Fiber Optik (FO) yang dapat digunakan sehingga hal ini tentunya menghambat proses pembelajaran. Dampaknya, mahasiswa kesulitan untuk mengaplikasikan teori dan mengembangkan keterampilan yang krusial di bidang telekomunikasi,” ungkap Benedicta, selaku mahasiswa kelas 2A, prodi D-IV Jaringan Telekomunikasi Digital.

Menanggapi hal tersebut, salah satu dosen memberikan penjelasan secara terbuka, “Setiap prodi memang menerima surat anggaran alat, tetapi karena keterbatasan, hanya sebagian saja yang diprioritaskan untuk segera diajukan”.

Di samping banyaknya alat praktikum yang tidak memadai, beberapa fasilitas di Gedung AH kurang layak untuk dipakai, terutama bagi mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan Administrasi Niaga. Dinara, kelas 3A, Prodi D-III Teknik Telekomunikasi mengungkapkan “Ada beberapa toilet di lantai 1 dan 3 yang sudah tidak layak pakai, seperti wastafel yang bermasalah dan pintu yang tidak ada. Selain itu, kebanyakan proyektor dinilai kurang kompatibel dengan mahasiswa sehingga dapat menyulitkan proses presentasi mereka”. Muhammad Noor Hidayat, selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro menyampaikan “Berbagai keluhan akan segera disampaikan dan jika terdapat kendala pada sarana dan prasarana kampus, maka secepatnya harus dilaporkan ke admin jurusan untuk dieksekusi lebih lanjut”.

Meskipun permasalahan fasilitas fisik cukup mendesak, perhatian mahasiswa juga tertuju pada aspek nonfisik, terutama pada penyampaian informasi akademik dan kegiatan jurusan yang dinilai kurang optimal. Ocha, perwakilan mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, mengkritik akun media sosial jurusan yang dinilai pasif dan kurang dimanfaatkan sebagai kanal informasi utama. Ia juga mempertanyakan apakah terdapat aturan tertentu yang membatasi pengelolaan akun tersebut.

Ketua Jurusan Teknik Elektro, menjelaskan bahwa pengelolaan media sosial telah mulai diupayakan sejak semester lalu, namun masih terkendala oleh minimnya mahasiswa yang bersedia mengelola konten di media sosial tersebut. Jurusan pun membuka kesempatan bagi mahasiswa yang tertarik di bidang desain dan komunikasi untuk ikut berkontribusi. Selain itu, dosen juga menyampaikan bahwa ada aspirasi dari mahasiswa yang mengusulkan pembentukan channel WhatsApp sebagai alternatif penyampaian informasi yang lebih cepat dan langsung ke mahasiswa.

Secara keseluruhan, forum dialog ini memperlihatkan upaya untuk membuka jalur komunikasi yang lebih sehat antara mahasiswa dan dosen. Namun, sejumlah permasalahan yang disampaikan menunjukkan bahwa sistem komunikasi internal dan kejelasan standar akademik masih perlu ditingkatkan. Mahasiswa berharap tidak hanya didengar, tetapi juga mendapatkan tindak lanjut konkret yang bisa memperbaiki kondisi perkuliahan secara nyata.

 

(M. Syaikhul Ma’arif Adityawangsa, Wahyu Putra Nur Rahman)

 

Post View : 385

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *