Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Akreditas Belum Kunjung Kembali ke A, Presiden BEM: Tidak Menutup Kemungkinan Akan Ada Aksi

Ilustrasi Peran BEM Saat Akreditasi Dipertaruhkan (Satria)

 

Pada tanggal 19 Desember 2023, akreditasi Politeknik Negeri Malang (Polinema) resmi turun dari peringkat “A” menjadi “B” berdasarkan Surat Keputusan (SK) Nomor 1222/SK/BAN-PT/PEPA-Ppj/PT/XII/2023 yang dikeluarkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Sejak saat itu, belum terlihat adanya aksi dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai representasi aspirasi mahasiswa. Hal ini memicu kekecewaan dari berbagai pihak, khususnya mahasiswa yang merasa suara mereka tidak cukup diperjuangkan. Banyak yang mempertanyakan peran BEM dalam menyikapi isu sebesar ini. Turunnya akreditasi bukan hanya persoalan administratif, namun juga menyangkut citra institusi dan masa depan lulusan Polinema.

Muhammad Rais Rabulizat Ghaniy, selaku Presiden BEM Polinema menjelaskan bahwa tidak adanya aksi bukan berarti tidak ada gerakan. “Kami sudah menggelar audiensi terbuka yang dihadiri oleh pimpinan institusi. Karena pimpinan bersedia mewadahi diskusi, maka aksi tidak menjadi prioritas saat itu,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa aksi tetap menjadi opsi yang terbuka jika dalam jangka waktu tertentu tidak ada perkembangan signifikan. “Namanya juga aksi, itu adalah pilihan terakhir. Tapi tidak menutup kemungkinan akan ada, karena langkah-langkah ke arah sana masih terus kami persiapkan,” ujarnya lagi.

Menurut Athallah Fauzan, selaku Fungsionaris BEM turut memberikan pandangan bahwa pihaknya telah melakukan kajian dan komunikasi, namun menemui kendala dalam mengeksekusi hasil kajian menjadi langkah konkret. Informasi yang berhasil dikumpulkan menunjukkan bahwa kendala utama reakreditasi berada di ranah administratif dan kebijakan internal BAN-PT. Beberapa program dan syarat akreditasi belum terpenuhi secara maksimal, termasuk beban sumber daya dari pembukaan prodi dan kampus baru pada Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Polinema.

Di sisi lain, mahasiswa umum menyuarakan rasa frustrasi atas minimnya update yang disampaikan BEM. “Aspirasi memang tersalurkan, tapi kadang berhenti di tengah jalan. Saya lihat BEM lebih sibuk dengan acara internal,” ucap Luna, mahasiswa dari jurusan Administrasi Niaga. Meski demikian, kepercayaan belum sepenuhnya hilang. Mahasiswa masih menganggap BEM sebagai corong aspirasi yang penting, hanya saja dibutuhkan langkah yang lebih konkret dan transparan.

Ketua Umum Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Rizkie Ardiansyah menilai bahwa BEM sudah berusaha, namun hasilnya belum maksimal. Ia menyebut audiensi yang pernah digelar kurang terstruktur dan tidak berhasil menggiring jawaban pimpinan sesuai harapan mahasiswa. “Kurangnya manajemen forum menyebabkan forum itu tidak berjalan optimal. Output-nya tidak mengena,” jelasnya. Meskipun begitu, DPM tetap membuka ruang kolaborasi dan mendorong agar gerakan mahasiswa tidak hanya bergantung pada satu pihak.

Masalah akreditasi Polinema seharusnya menjadi perhatian bersama seluruh elemen mahasiswa. BEM sebagai eksekutif kampus tidak bisa berjalan sendiri tanpa partisipasi aktif dari mahasiswa dan kolaborasi strategis dengan DPM. Jika tidak ada konsolidasi menyeluruh, suara mahasiswa berisiko redup di tengah kompleksitas birokrasi dan hambatan eksternal seperti keterbatasan dari BAN-PT.

Kini, mahasiswa menanti bukan hanya pernyataan belaka, tetapi aksi nyata yang dapat mengembalikan kepercayaan dan menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa memiliki daya tawar dalam isu strategis kampus. Karena dalam setiap perjuangan institusional, keberanian untuk bersuara dan bergerak bersama adalah kunci untuk tidak membiarkan masalah besar berlalu tanpa gema.

 

(Satria Rakhmadani, Adithia Maulana Suryadi)

 

Post View : 565

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *