Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Kurangnya Fasilitas dan Hak Atlet Polinema Yang Belum Terpenuhi menjelang Pomprov Jatim III 2025

Kondisi Pesiapan Sebelum Pertandingan Bagi Atlet Cabang Olahraga Bola Basket (Sumber: Dokumentasi Istimewa)

Di balik gemerlap panggung olahraga yang bertabur prestasi, terdapat kenyataan pahit yang dialami oleh banyak Mahasiswa atlet terutama di Politeknik Negeri Malang (Polinema). Tuntutan yang dituju kepada atlet sangat tidak sebanding dengan fasilitas yang disediakan. Selain itu kurangnya dukungan dan apresiasi dari kampus membuat para atlet merasa tidak adil dengan tuntutan yang diberikan. Adapun indikasi awal atlet mengeluhkan tersebut ketika persiapan Pekan Olahraga Mahasiswa Provinsi (Pomprov) Jatim III 2025.

Menurut Yulitha Amanda Putri, salah satu mahasiswa yang juga merupakan atlet cabang olahraga bulu tangkis, kurangnya fasilitas yang diberikan kepada cabang olahraga bulu tangkis berupa shuttlecock yang hanya diberikan 15 biji setiap latihannya, sehingga kurang maksimal dalam proses latihan,  selain itu dari segi lapangan yang dipakai sedikit kurang memadai dikarenakan pemindahan tempat latihan dari Aula Pertamina ke Aula Gedung Mesin. “Karena atapnya cukup rendah, pencahayaan jadi kurang optimal, terutama karena lampunya langsung mengarah ke mata,” ujar Yulitha. Permasalahan soal kepelatihan menjadi salah satu faktor fasilitas yang belum dipenuhi oleh kampus, disebabkan mulai dari birokrasi yang sulit hingga keuangan, sehingga banyak atlet bingung mencari dana untuk menyewa pelatih. Dari pimpinan juga tidak ada upaya ataupun tindak lanjut perihal kepelatihan. Menurut Dimas Satria, selaku Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Olahraga periode 2025/2026, mengungkapkan intensitas latihan yang banyak sehingga dana yang diturunkan oleh pimpinan masih kurang untuk membayar upah pelatih.

Apresiasi dari kampus terhadap atlet juga masih kurang. “Polinema dapat memberikan apresiasi lebih atas prestasi mahasiswa, khususnya bagi peraih juara. Saat ini, dukungan yang diberikan masih terbatas misalnya, bonus juara nasional hanya sebesar Rp200.000, yang tidak sebanding dengan biaya akomodasi yang dikeluarkan secara mandiri,” ungkap Rofig, salah satu mahasiswa atlet cabang olahraga bridge. Selain itu bentuk dukungan yang harus diberikan pihak kampus terhadap para atlet adalah asuransi kesehatan. “Atlet Pencak Silat pernah mengalami kecelakaan saat bertanding. Oleh karena itu, bentuk dukungan lain yang perlu dipertimbangkan adalah penyediaan asuransi kesehatan,” ucap Rofiq.

“Perihal Pomprov, adapun atlet yang memakai uang mandiri di karenakan tidak didanai oleh pihak kampus. Sehingga para dosen ikut memberikan dukungan berupa dana pribadi kepada atlet yang mengikuti Pomprov namun tidak didanai oleh pihak kampus,” ucap Dimas. Ia menjelaskan bahwa terdapat penurunan terkait atlet yang berpartisipasi dalam ajang Pomprov edisi ini dibanding edisi sebelumnya. Ada sekitar 89 atlet pada edisi sebelumnya berkurang menjadi 68 atlet yang akan bertanding. “Untuk tim yang berangkat ke Pomprov, total ada 67 orang. Namun, yang sebenarnya diajukan ke pimpinan hanya sekitar 52 sampai 54 orang, saya agak lupa tepatnya. Sisanya berangkat dengan biaya pribadi. Khususnya tim basket putri yang sudah Training Center sejak November 2024 dan terus berlatih hingga sekarang. Karena anggaran yang disetujui pimpinan terbatas, cabor basket memutuskan hanya sebagian yang didanai, sementara sisanya memilih tetap berangkat dengan biaya sendiri,” ujar Dimas.

Dengan kurangnya hak dan fasilitas yang diberikan oleh kampus terhadap para atlet maka perlunya tindakan yang nyata. Pimpinan harus turun langsung ke lapangan melihat para atlet berlatih maupun bertanding. Tempat berlatih para atlet harus sesuai standar dan nyaman. Harus adanya asuransi yang diberikan pihak kampus terhadap atlet untuk membuat merasa aman ketika mereka berlatih maupun bertanding. Dan juga hak-hak para atlet untuk mendapatkan pelatih yang berlisensi juga diperhatikan, agar pembinaan lebih meningkat dan prestasi dapat terus ditingkatkan.

 

(Adithia Maulana Suryadi, Salsabil Salma)

 

Post View : 292

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *