Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Misteri Lahan AK Polinema: Siapa yang Menanam di Tanah Terbengkalai?

Kondisi lahan Gedung AK saat ini yang ditanami berbagai tanaman (Elsa)

Gedung AK Politeknik Negeri Malang (Polinema) yang dulunya menjadi pusat kegiatan belajar-mengajar mahasiswa kelistrikan kini hanya menyisakan lahan kosong yang terbengkalai. Pasca-pembongkaran pada 2024, lahan ini menjadi sorotan karena kemunculan tanaman jagung, singkong, ubi jalar, dan kacang tanah yang tumbuh secara misterius.

Gedung ini yang awalnya merupakan fasilitas penting bagi mahasiswa Program Studi Kelistrikan malah dirobohkan pada tahun 2024 dan menjadi lahan kosong. Berdasarkan keterangan dari Rayhan Farrel Wicaksono, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) menegaskan bahwa lahan tersebut tidak terbengkalai karena sudah ada kepastian pembangunan dengan dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Menurut Noor Hidayat, Ketua Jurusan Elektro, lelang gedung AK diumumkan pada 7 November 2024 sebagai langkah untuk menghapus aset negara dan menyediakan lahan kosong, yang menjadi salah satu syarat utama SBSN.  “Polinema berkompetisi dengan institusi lain untuk mendapatkan pendanaan ini. Syaratnya harus ada area kosong untuk pembangunan, sehingga gedung AK dipilih untuk dibongkar dan dibangun ulang,” jelas Kajur Elektro.

Rencananya, pembangunan gedung baru setinggi tujuh lantai akan selesai pada 2025. Namun, karena efisiensi anggaran pemerintah, dana yang awalnya Rp80 miliar dipangkas menjadi sekitar 40%, atau Rp30-an miliar. Akibatnya, pembangunan tertunda. “Kita ajukan kontrak multi-years, sehingga pembangunan bisa dilakukan bertahap. InsyaAllah dimulai Juli 2025 dan selesai April 2026,” tambah Kajur Elektro. Ketua Program Studi D-IV Sistem Kelistrikan, Irwan Heryanto, menegaskan bahwa pendanaan SBSN tidak menggunakan dana UKT mahasiswa, melainkan murni dari pemerintah, termasuk fasilitas laboratorium modern yang akan disediakan untuk menopang kegiatan belajar mengajar.

Pembongkaran gedung AK menyebabkan mahasiswa program studi kelistrikan kehilangan ruang kelas dan bengkel listrik. Sebagai gantinya, Aula Pertamina disulap menjadi laboratorium sementara. Menurut Kajur Elektro, belum ada keluhan resmi dari mahasiswa, meskipun ada penurunan kenyamanan. “Aula Pertamina bukan didesain untuk lab dan bengkel, jadi luas area dan kenyamanan berkurang, tapi proses belajar tetap berjalan,” ujarnya.

Namun, Kaprodi D-IV Sistem Kelistrikan mengungkapkan bahwa ada keluhan yang datang dari mahasiswa dan dosen. Beliau mengungkapkan bahwasannya gedung Aula Pertamina kurang memadai untuk dijadikan tempat proses belajar mengajar. Partisi yang digunakan di gedung ini tidak dapat meredam polusi suara, terutama saat ada praktikum di bengkel yang menyebabkan ruangan lain merasa terganggu. Priya Surya Harijanto, dosen Jurusan Elektro, menambahkan bahwa meskipun ada kendala seperti kepadatan ruang dan intervensi suara, proses belajar-mengajar tetap berjalan maksimal. “Penerangan dan pendingin di Aula Pertamina sama seperti di gedung AK, jadi kami berusaha menjalankan praktikum seperti biasa,” katanya. Menurut perspektif mahasiswa kelistrikan sekaligus Ketua Umum HME, proses belajar mengajar di Aula Pertamina dapat berjalan dengan lancar walaupun polusi suara menjadi masalah utama. Namun selebihnya belum ada kendala lain yang signifikan.

Setelah pembongkaran bangunan gedung AK, di tengah lahan terbengkalai tersebut, tanaman jagung, singkong, ubi jalar, dan kacang tanah tertanam dengan rapi, memunculkan pertanyaan: siapa yang menanam? Ada dugaan bahwa tanaman ini tumbuh secara alami akibat lahan kosong yang subur dan curah hujan, susunan tanaman yang rapi menunjukkan adanya campur tangan manusia. Namun, belum ada laporan resmi mengenai siapa yang menanam, dan akses ke lahan seharusnya tertutup karena berada di area kampus. Kaprodi D-IV Sistem Kelistrikan bersikap santai terhadap fenomena ini. “Mungkin warga sekitar atau karyawan kampus yang iseng menanam. Selama lahan belum dibangun, ya silakan saja. Tapi kalau pembangunan dimulai, tanaman akan dipanen atau dibuang dengan pendekatan persuasif,” ujarnya. Beliau bahkan bergurau, “Kalau mahasiswa mau tanam bayam atau cabai untuk makan geprek, silakan. Dua bulan panen, tapi jangan marah kalau digusur Juli nanti.”

Sampai detik ini, misteri munculnya tanaman di lahan kosong gedung AK belum terpecahkan. Fenomena tumbuhan ini juga dianggap tidak mengganggu perkuliahan, karena aktivitas belajar sudah pindah ke Aula Pertamina. Ada spekulasi bahwa kondisi lahan yang kosong dan subur menjadi alasan mengapa area ini dimanfaatkan oleh pihak tertentu, entah masyarakat sekitar atau petugas kebersihan kampus. Baik dari pihak kampus maupun HME, keduanya tidak mempermasalahkan hal ini, tetapi tetap mencoba menyelidiki lebih lanjut. Yang pasti diharapkan lahan ini akan segera berubah menjadi gedung modern 7 lantai pada 2026. Akankah misteri ini terpecahkan sebelum pembangunan dimulai?

 

(Chindi Sentia Wulandari, Elsa Tri Meida Ananta)

 

Post View : 870

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *