Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Suarakan Aksi May Day: Turunkan Harga, Naikkan Upah

Massa aksi May Day tampak mengibarkan bendera di depan Balai Kota Malang (Soca)

Aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) yang diinisiasi oleh Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu digelar di Malang pada Jumat, 1 Mei 2026. Aksi ini menyatukan berbagai elemen masyarakat sipil yang terdiri dari gabungan serikat buruh, mahasiswa, petani, hingga kolektif skena musik hardcore dan punk. Massa menggelar aksi damai yang diwarnai dengan mimbar bebas, pembacaan pernyataan sikap, serta penampilan musik dari band kolektif lokal dan Jakarta sebagai bentuk aksi simbolik dan medium kampanye untuk memperluas jangkauan solidaritas perlawanan masyarakat sipil.

Dalam pernyataan sikapnya, Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu membawa 14 poin tuntutan mendesak. Beberapa poin utama di antaranya adalah pencabutan UU Omnibus Law, penerapan sistem upah layak nasional sesuai putusan Mahkamah Konstitusi No. 168/2023, serta penghapusan sistem kerja kontrak dan kemitraan yang eksploitatif. Massa juga menuntut jaminan hak reproduksi perempuan tanpa potongan upah, penghentian operasi militer di Papua, serta pembebasan tahanan politik. Aliansi menekankan pentingnya mengembalikan militer ke barak dan mendesak pemerintah untuk menghentikan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang merusak ruang hidup rakyat di berbagai wilayah Indonesia.

Salah satu perwakilan buruh menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah terhadap perusahaan yang mengabaikan hak pekerja. Ia merasa peran legislatif saat ini belum berpihak pada kesejahteraan rakyat. “Banyak perusahaan yang menggaji karyawan di bawah UMR dan dikit-dikit diputus kontrak. Anggota dewan itu seharusnya mengontrol perusahaan. Ujung-ujungnya masyarakat butuh bekerja, ditawari gaji sekian mau, kalau tidak mau akhirnya menganggur,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Serikat Buruh, Misti Muhammad, mengkritik keras proses legislasi Omnibus Law yang tidak berpihak pada buruh. “Dari setiap runtutan kebijakan itu kan tidak pernah melibatkan unsur publik. Undang-Undang 6/2023 disahkan saat era COVID jam 12 malam ketika buruh tidak boleh aksi. Itu cacat hukum, tapi sampai saat ini tidak ada niatan untuk diperbaiki,” jelasnya.

Keterlibatan generasi muda dalam aksi ini juga menjadi sorotan tersendiri. Koordinator lapangan aksi, Rizki, menegaskan bahwa mahasiswa hadir dengan melepas identitas almamater untuk melebur sepenuhnya bersama kelas pekerja guna menolak segala bentuk hegemoni. Ia juga menolak keras upaya penyempitan makna May Day oleh pihak-pihak tertentu. “Pesan utamanya adalah jangan mau May Day di setir menjadi momentum perayaan. May Day adalah momentum penindasan dan perlawanan untuk menolak segala bentuk imperialisme dan militerisme dari pemerintah hari ini,” tegas Rizki.

Di tengah jalannya aksi, semangat massa terus terjaga melalui berbagai seruan slogan yang menggema di depan Balai Kota Malang. Massa secara bergantian meneriakkan yel-yel “Hidup rakyat!”, ”Hidup buruh!”, “Hidup tani!” yang dijawab serentak oleh peserta aksi. Seruan tersebut menjadi simbol persatuan lintas elemen sekaligus penegasan bahwa perjuangan buruh tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan perjuangan petani, nelayan, mahasiswa, dan masyarakat sipil secara luas. Dalam orasi, peserta juga menyerukan dukungan kepada masyarakat Papua serta seluruh korban penindasan struktural. Seruan “Hidup korban, jangan diam!” menggambarkan pesan bahwa masyarakat tidak boleh apatis terhadap ketidakadilan yang terjadi di berbagai wilayah. Bagi peserta aksi, May Day bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk mengingat bahwa masih banyak persoalan ketenagakerjaan, ketidakadilan sosial, serta pembatasan ruang sipil yang perlu diperjuangkan bersama. 

Aksi May Day 2026 di Balai Kota Malang ini diharapkan tidak hanya menjadi respons sesaat, melainkan menjadi pijakan untuk Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang lebih panjang. Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu berkomitmen untuk terus merawat persatuan antar-segmentasi kelas agar tidak mudah terpecah belah dalam menyuarakan hak-hak mereka ke depannya. Semangat yang digaungkan di akhir aksi menjadi simbol bahwa selama ketidakadilan masih ada, suara rakyat akan terus bergerak dan melawan. Di tengah kondisi yang penuh tekanan, terselip harapan luhur agar perjuangan ini membawa perubahan nyata. “Walaupun bukan tahun ini atau tahun depan, mudah-mudahan anak cucu kita hidupnya layak, cari kerja enak. Intinya kita harus ikhlas dalam berjuang,” pungkas perwakilan buruh yang menegaskan bahwa perjuangan kelas pekerja adalah perjuangan panjang lintas generasi.

 

Penulis: Dita Ayu Permadani, Rizki Dharma Putra, Soca Adyuta Nismara

 

Post View : 24

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *