Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141
Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com


Judul Novel: Entrok
Penulis: Okky Madasari
Ilustrator : Restu Ratnaningtyas
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010
Genre: Fiksi Sejarah
Jumlah Halaman: 282 halaman
ISBN: 978-979-22-5589-8
Entrok adalah novel pertama karya Okky Madasari yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama untuk memperingati hari Kartini, pada 21 April 2010. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Years of the Voiceless”. Kata ‘Entrok’ berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti baju dalam atau disebut juga bra/bh, serta memiliki metafora makna berupa kontrol, keterbatasan, dan perlawanan yang dihadapi perempuan.
Sinopsis
Mengisahkan kehidupan dua perempuan dari dua generasi berbeda, yakni Marni dan putrinya Rahayu di Desa Singget, Madiun. Novel ini menyoroti perjuangan perempuan menghadapi kemiskinan, ketidakadilan sosial, serta tekanan budaya dan politik di tahun 1950 hingga 1999. Marni, perempuan desa buta huruf yang tumbuh dalam tradisi animisme, sejak kecil memimpikan memiliki entrok, pakaian dalam mewah yang hanya bisa dimiliki kalangan berada. Keinginan ini menjadi simbol perlawanan terhadap nasibnya sebagai pengupas singkong tanpa upah. Ia pun nekat menjadi kuli panggul perempuan pertama di desanya dan
memulai usaha dagang bersama suaminya hingga sukses menjadi penyedia pinjaman dan kredit barang. Namun, keberhasilan itu memicu prasangka warga yang mencurigainya menjalankan pesugihan karena tetap memegang tradisi sesajen dan ritual kepercayaan lama.
Di tengah tekanan sosial, Marni bertekad menyekolahkan Rahayu setinggi mungkin agar hidup lebih baik. Namun, pendidikan dan ajaran agama membuat Rahayu menolak tradisi sang ibu, menganggapnya bertentangan dengan keyakinan mereka. Perbedaan ini memicu jarak emosional dan memperlihatkan konflik antar generasi, antara nilai lama dan pemikiran modern. Ketegangan ibu-anak ini memuncak ketika Rahayu, dengan idealismenya, menghadapi konsekuensi besar dari pilihan hidupnya.
Kelebihan
Dengan gaya penceritaan dari dua sudut pandang Marni dan Rahayu yang bergantian tiap bab, novel ini berhasil menyajikan narasi yang emosional dan mendalam. Bahasa yang digunakan sederhana, lugas, dan penuh monolog batin khas sudut pandang orang pertama, membuat emosi tokoh terasa nyata. Penggunaan latar sosial-politik yang kuat, sukses menggambarkan suasana mencekam Orde Baru dibawah kepemimpinan rezim militer, mulai dari pemilu yang curang, intimidasi aparat militer, pelabelan PKI (Partai Komunis Indonesia) terhadap warga yang berani bersuara, penembakan misterius (petrus) yang menyebar ketakutan, hingga kisah rakyat kecil yang tergusur demi pembangunan. Ada juga penyinggungan terhadap diskriminasi etnis Tionghoa serta pengekangan terhadap kebebasan beragama dan budaya. Penokohan Marni sebagai perempuan tangguh sangat kuat, dipadukan dengan konflik batin Rahayu sebagai generasi muda dengan pemikiran kritis membuat konflik keduanya menyentuh dan bermakna terutama isu feminisme, emansipasi, serta kritik terhadap stereotip gender dan prasangka sosial yang tersampaikan dengan tajam.
Kekurangan
Terdapat pergantian sudut pandang antara Marni dan Rahayu sedikit membingungkan, terutama saat Rahayu menceritakan peristiwa ibunya secara rinci padahal ia tidak hadir dan hubungan mereka digambarkan renggang. Namun, secara keseluruhan kekurangan ini tidak terlalu mengganggu jalannya alur cerita.
Kesimpulan
Entrok adalah novel yang menggambarkan perjuangan perempuan melawan stereotip dan ketidakadilan di era Orde Baru. Marni dan Rahayu mewakili suara perempuan yang sering dipandang sebelah mata, menegaskan bahwa mereka bukan hanya objek, tetapi subjek yang berhak menentukan nasib sendiri. Dengan narasi sederhana namun emosional, novel ini mengajak pembaca merenungkan kasih sayang ibu yang tak pernah luntur, peran perempuan dalam masyarakat, dan dampak norma patriarki serta melihat bagaimana suara rakyat kecil terutama perempuan tak pernah benar-benar didengar di bawah bayang kekuasaan.
(Nur Martha Putri Pramantia)
Post View : 656