Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Denyut Solidaritas Mahasiswa Lewat Donor Darah di Polinema

Bentuk Kepedulian Sosial: Donor Darah Hari Ini (Adityawangsa)

Di balik hiruk-pikuk aktivitas kampus, pagi itu Graha Polinema terasa berbeda. Deretan mahasiswa tampak mengantre dengan tenang, beberapa tampak gugup, dan sebagian lagi tersenyum sambil menggenggam formulir. Mereka bukan sedang menunggu dosen atau ujian, mereka sedang menanti giliran untuk menyumbangkan setetes darah. Donor darah bukan sekadar kegiatan sosial biasa; ini adalah bentuk paling nyata dari kepedulian antarmanusia. Diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Bhakti Karya Mahasiswa (UKM BKM) bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Malang, kegiatan ini menjadi bukti bahwa kemanusiaan tak perlu menunggu lulus, cukup dengan lengan yang rela dan hati yang peduli.

Ajeng, Ketua Pelaksana Donor Darah 1 Tahun 2025, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan dua kali dalam setahun, biasanya pada bulan Juni dan November. Untuk periode ini, tema yang diangkat adalah “Darah sebagai Investasi Masa Depan” sebagai pembeda dari pelaksanaan sebelumnya. Tujuan utama kegiatan ini adalah memfasilitasi masyarakat yang ingin mendonor, menambah stok darah bagi PMI, meningkatkan kesadaran akan pentingnya donor darah, dan menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama. Persiapan dilakukan selama satu bulan, dimulai dari pembentukan kepanitiaan hingga menyusun konsep acara. Target harian ditetapkan sebanyak 100 pendonor, dengan sasaran terbuka bagi masyarakat umum, tidak terbatas hanya pada civitas akademika Polinema.

Tantangan yang dihadapi panitia tidak sedikit. Kurangnya pemahaman peserta terhadap lokasi acara dan syarat donor menjadi hambatan tersendiri. “Beberapa peserta bahkan mengalami mual karena belum sarapan,” ujar Ajeng. Meski begitu, kerjasama serta dukungan dari PMI dan antusiasme mahasiswa menjadi faktor penting dalam kelancaran acara. Ajeng berharap kedepan lebih banyak orang yang sadar akan manfaat donor darah dan lebih terbuka untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan ini.

Menurut Firgiawan Dicky Darmanto, mahasiswa D-III Akuntansi, donor darah bukan sekadar aksi sosial. Dengan prinsip “kalau masih muda itu sebaiknya mencoba segala hal dulu sebelum tua, sebelum nanti menyesal,” Firgi memberanikan diri mendonorkan darah untuk pertama kalinya. Meski sempat ragu, rasa penasaran dan keinginan untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat membuatnya melangkah. Menurutnya, kegiatan donor darah di kampus sangat penting karena banyak mahasiswa yang berminat, tetapi terkendala gaya hidup dan pola tidur yang tidak teratur. Firgi menilai bahwa donor darah tak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menjadi ladang pahala yang mungkin tak disadari.

Sih Sugeng Prihadi, relawan dari PMI Kota Malang, menegaskan bahwa kegiatan donor darah bukan hanya soal memenuhi stok kantong darah. “Kalau bukan kita, siapa lagi? Setetes darah itu luar biasa nilainya, karena bisa menyelamatkan nyawa orang lain,” ujarnya penuh semangat. Ia menjelaskan bahwa darah yang telah didonorkan akan melalui proses laboratorium terlebih dahulu untuk memastikan keamanannya, kemudian dipisah menjadi empat komponen utama: sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dan plasma. Masing-masing komponen ini memiliki fungsi vital dalam berbagai penanganan medis, menjadikan kontribusi mahasiswa dalam kegiatan ini sangat bermakna.

Ketua Umum BKM, Surya Putra Viryansyah, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat dan juga berdampak bagi yang membutuhkan. “Donor darah itu berdampak positif, selain untuk kesehatan, kita juga bisa membantu orang-orang yang kurang beruntung,” jelasnya. Tahun ini, kegiatan berpindah ke Graha Polinema karena aula Pertamina yang biasa digunakan telah dialihfungsikan menjadi bengkel. Koordinasi dilakukan sejak awal dengan pihak kampus sebelum proposal diajukan ke PMI Kota Malang.

Surya mengungkapkan bahwa beberapa peserta ada yang datang dalam kondisi kurang fit, namun tetap memaksa untuk donor. “Ada yang setelah donor langsung pusing dan bahkan sempat pingsan,” ceritanya. Kendati demikian, semangat mahasiswa untuk berpartisipasi tetap tinggi, terutama bagi mereka yang ingin mencoba donor untuk pertama kali tanpa harus pergi ke kantor PMI. “Semoga kedepan target bisa terpenuhi dan kegiatan ini bisa terus berkembang,” harap Surya.

Tak semua pertolongan harus besar. Terkadang, tindakan sederhana seperti mendonorkan darah bisa menjadi yang paling berarti bagi yang membutuhkan. Kegiatan donor darah di Polinema membuktikan bahwa semangat solidaritas dan kemanusiaan masih hidup di kalangan mahasiswa dan masyarakat sekitar. Momentum ini seharusnya tidak berhenti sampai di sini. Donor darah bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan gaya hidup yang bisa terus dilanjutkan untuk membantu sesama. Ayo terus berdonor, jadikan donor darah sebagai bagian dari kepedulian kita. Karena setetes darahmu adalah harapan hidup bagi orang lain.

 

(Rahma Faradhina Muthmainah, Cleo Dewanti, Satria Rakhmadani)

 

Post View : 212

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *