Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Diskusi Hangat Tentang Film Sebagai Representasi Nilai Bangsa (Adityawangsa)

Mengulik Tuntas Film Sebagai Media Pengantar Ideologis Bangsa

Diskusi Hangat Tentang Film SebagaiRepresentasi Nilai Bangsa (Adityawangsa)
Diskusi Hangat Tentang Film Sebagai Representasi Nilai Bangsa (Adityawangsa)

Santiaji Nasional Pancasila: “Meretas Makna Pancasila di Layar Lebar: Film sebagai Medium Representasi Nilai Bangsa” merupakan seminar yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (UM), bekerja sama dengan Pelangi Sastra Malang dan CakraSinema, pada tanggal 16 Mei 2025 pukul 13.00 WIB, bertempat di Lecture Hall lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) A20. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lainnya, serta masyarakat umum.

Seminar ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Dr. Akhirul Aminulloh, S.Sos., M.Si. (Dosen Ilmu Komunikasi UM) dan Dr. Nurman Hakim, S.Sn., M.Sn. (Sutradara sekaligus Dosen Film di Institut Kesenian Jakarta). Acara ini juga dimoderatori oleh Donny Maulana, mahasiswa S2 Pendidikan Sejarah UM. Dalam seminar ini, para narasumber membahas bagaimana film layar lebar dapat memuat dan merepresentasikan nilai-nilai Pancasila. Film dipandang bukan hanya sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai medium edukatif dan kultural yang mampu menanamkan serta menyampaikan nilai-nilai kebangsaan kepada masyarakat.

Dalam setiap adegan dan narasi, film menyimpan jejak nilai, norma, dan pergulatan sosial yang mencerminkan kehidupan masyarakat. Tidak hanya sebagai media hiburan, film juga dapat berperan sebagai alat diagnostik dalam kondisi politik yang sedang terjadi melalui berbagai cara, seperti karakter, alur dan dialog yang mengandung pesan ideologis. Ideologi bekerja secara halus melalui narasi dan pencitraannya. Sebagai contoh, dalam film horor, pemuka agama digambarkan sebagai pemenang. Namun jika pemuka agamanya kalah, hal ini memunculkan pertentangan dan pergeseran ideologi terhadap norma dominan. Sementara itu, kebanyakan film Amerika cenderung menampilkan tokoh-tokoh heroik yang secara tidak langsung menanamkan nilai nasionalisme. Hal ini tentunya menjadi cerminan bagi film-film di Indonesia, apakah film kita digambarkan secara alami atau heroik dan bagaimana hal itu mampu mempengaruhi pemahaman masyarakat terhadap nilai kebaikan dan keburukannya. 

Pemahaman masyarakat terhadap nilai kebaikan dan keburukan sangat dipengaruhi oleh cara pandang yang terbentuk melalui interaksi sosial. Namun, film seringkali membentuk atau bahkan memanipulasi cara pandang tersebut, sehingga citra yang ditampilkan bisa lebih negatif atau lebih kuat dibandingkan dengan realitas yang sebenarnya. Secara tidak langsung, film dapat membentuk persepsi orang terhadap perilaku, motivasi, serta karakteristik individu maupun kelompok di dalamnya.

Selain itu, film juga dipandang sebagai teks budaya yang memproduksi wacana dan berperan dalam menyebarkan dan mendominasi pola pikir tertentu dalam masyarakat. Sayangnya, belakangan ini nilai yang terkandung dalam Pancasila mulai terabaikan dengan ketidakhadirannya dalam berbagai produk budaya, seperti film, musik, dan acara televisi. “Sebagai contoh, banyak acara televisi yang lebih mengedepankan sensasi, gosip, kekerasan dan aib-aib sehingga nilai-nilai kebhinekaan mulai terabaikan,” ujar Dr. Akhirul Aminulloh, selaku pembicara pada Acara Santiaji Nasional Pancasila.

Melalui pembahasan di atas, kita dapat melihat bahwa film bukan sekadar media hiburan, melainkan juga sarana untuk mengekspresikan ideologi dan nilai budaya, termasuk Pancasila. Film seringkali mencerminkan cara berpikir dan keyakinan ideologis sang pembuat, sehingga penonton dapat menafsirkan pesan yang lebih dalam dari apa yang ditampilkan. Dengan hadirnya peran aktif dari kalangan akademisi, diharapkan tercipta jembatan antara produksi film dan nilai-nilai dasar bangsa, sehingga ekosistem perfilman Indonesia dapat berkembang ke arah yang lebih mencerdaskan dan membangun identitas nasional. Seperti yang disampaikan oleh Dr. Nurman Hakim, “Kalau kita menyadari makna dari sebuah film, kita dapat lebih kritis terhadap apa yang disampaikan oleh filmnya. Dengan demikian, film bisa menjadi cermin dan penggerak kesadaran ideologis masyarakat Indonesia.”

 

(Satria Rakhmadani, M. Syaikhul Ma’arif Adityawangsa)

 

Post View : 699

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *