Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141
Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com


Kegiatan mahasiswa di kampus tidak hanya meliputi program-program akademik, tetapi juga melalui organisasi seperti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dan himpunan mahasiswa. Di Politeknik Negeri Malang sendiri, kita mengenalnya sebagai OKI Polinema atau Organisasi Kemahasiswaan Intra Politeknik Negeri Malang yang mewadahi seluruh kegiatan mahasiswa. OKI Polinema bergerak di bidang kemahasiswaan, meliputi organisasi, kepemimpinan, minat bakat, serta aspirasi dan pengembangan mahasiswa. Setiap OKI biasanya didampingi oleh Dosen Pembina Kemahasiswaan (DPK) yang memiliki peran penting sebagai pembina, pemberi arahan, dan penghubung antara organisasi dengan pihak administrasi kampus. Namun nyatanya, keterlibatan DPK dalam membimbing Organisasi yang dipegang itu masih tidak merata di setiap organisasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana peran DPK telah berjalan secara optimal dalam mendukung kelancaran dan perkembangan organisasi mahasiswa.
Bagi UKM Olahraga, peran DPK terasa nyata dan aktif. Ketua Umumnya, Dimas Satria menyatakan bahwa “DPK cukup sering berkomunikasi dengan kami. Saya bersama BPH (Badan Pengurus Harian) lainnya juga kerap menemui dosen pembimbing karena banyak hal yang perlu dibahas, sehingga DPK memang sering kami hubungi,”. Dengan satu DPK utama dan sebelas dosen pembina untuk tiap cabang olahraga, koordinasi program berjalan cukup baik. Dimas juga menambahkan, “Beliau hampir selalu hadir di kegiatan besar. Bahkan kadang beliau yang duluan kontak kami untuk nanya kondisi UKM.” Meskipun DPK-nya hanya fokus pada satu cabang tertentu dan ada batasan dalam menangani seluruh kebutuhan organisasi, Dimas menilai pendampingan tersebut sudah sangat membantu dan relevan bagi keberlangsungan UKM.
Berbeda dengan itu, pengalaman sebuah Himpunan Mahasiswa menggambarkan pendampingan yang tidak sepenuhnya stabil. Ketua himpunan yang tidak ingin disebutkan namanya mengakui bahwa DPK suka memberi arahan dan mendampingi, tetapi respons dan kehadirannya tidak selalu konsisten. “Kalau disebut sering berinteraksi dengan pengurus… tidak terlalu sering cuma tergantung dari siapanya. kalau sama ketua umum biasanya sering.” ucapnya. Ia menambahkan bahwa ada masa ketika DPK mudah ditemui, namun ada pula waktu ketika pesan yang dikirimkan membutuhkan waktu lama untuk dibalas. “Kadang pas butuh banget, beliau nggak di kampus. Jadi kami harus nunggu,” katanya. Kehadiran DPK dalam kegiatan pun tidak selalu dapat dipastikan. Dirinya juga menambahkan bahwa pengaruh DPK itu masih belum terlalu terasa “Kalau pengaruhnya sebenarnya ga besar-besar banget ya. Cuma ya sebagai DPK itu juga dari kami juga membutuhkan gitu loh.” ujarnya. Meski demikian, pengurus menghargai upaya DPK yang tetap memberikan saran dan membantu saat organisasinya dalam kesulitan.
Sementara itu, UKM Radio Kampus Politeknik FM. (PLFM) mengalami hal yang jauh berbeda. Minimnya pendampingan membuat UKM ini merasa berjalan hampir sendirian. Ketua PLFM, Narendra, dengan jujur menyampaikan bahwa interaksinya dengan DPK sangat terbatas. “Kita berjumpa sekali, kalau dengan saya sendiri sudah dua kali… jadi memang bisa dikatakan sangat minim sekali untuk bertemu.” ungkapnya. Ia juga menuturkan bahwa dalam program besar pun, DPK tidak hadir. “Acara OPREC (Open Recruitment) dan Open Air itu dua kegiatan kami yang paling penting. Tapi DPK nggak datang sama sekali,” katanya. Faktor utama yang menyebabkan minimnya peran DPK menurutnya adalah kurangnya komunikasi dan ketidaksesuaian jadwal. “Kami pernah butuh beliau saat acara besar, tapi ternyata beliau hadir di acara jurusan yang akhirnya membuat beliau tidak bisa menyempatkan hadir di acara UKM. Itu sangat kami sayangkan,” tuturnya. Ia bahkan menyebut bahwa berdiskusi pun sulit dilakukan, jangankan untuk bertemu, pesan WhatsApp pun jarang dibalas. Narendra bahkan menilai bahwa pemilihan DPK sebaiknya mempertimbangkan kesesuaian bidangnya. “Yang jelas saya hanya ingin DPK itu paham apa yang kita jalankan. Mungkin ini bisa menjadi masukkan ke pusat juga, kalau memilih DPK itu setidaknya yang sesuai dengan bidangnya, tidak hanya sesuai dengan jurusannya. Karena yang saya tangkap selama ini, DPK dipilih berdasarkan dari kerelevansian dengan jurusannya.” Akhirnya, peran DPK lebih banyak dirasakan sebatas tanda tangan administrasi, bukan pendampingan substantif.
Pengalaman tiga organisasi tersebut memperlihatkan betapa timpangnya pelaksanaan fungsi DPK di lingkungan kampus. UKM Olahraga merasakan manfaat besar dari pendampingan yang aktif, sementara di sisi lain, PLFM menghadapi kondisi yang membuat peran DPK nyaris tidak terasa kecuali pada aspek administratif. Padahal, mahasiswa berharap DPK hadir, membimbing, serta memahami organisasi yang mereka jalankan. Peran ini bukan sekadar menandatangani berkas, tetapi menjadi bagian dari proses perkembangan mahasiswa sebagai individu maupun sebagai komunitas.
(Chindi Sentia Wulandari)
Post View : 139