Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141
Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com


Indonesia tengah berada dalam bayang-bayang inflasi yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Harga pangan meroket, biaya transportasi melonjak, hingga tarif hiburan yang tak lagi ramah di kantong. Kondisi ini menyebabkan daya beli masyarakat ikut tertekan, sehingga banyak orang kini lebih selektif dalam mengatur pengeluaran. Meski begitu, kebutuhan akan hiburan serta penampilan tetap menjadi prioritas utama bagi sebagian orang, hanya saja bentuknya kini lebih praktis dan ramah kantong. Dari sinilah muncul tren fast beauty yang mencuri perhatian terutama di kalangan generasi muda.
Istilah fast beauty merujuk pada tren konsumsi produk kecantikan yang menawarkan solusi cepat, mudah, dan murah bagi mereka yang tetap ingin tampil percaya diri di tengah kondisi ekonomi yang serba menekan. Dari skincare sachet harga belasan ribu, makeup “sejuta umat” yang viral di media sosial, hingga layanan sulam alis ataupun lash lift dengan paket hemat, Semuanya tetap diminati meski kondisi keuangan sedang pas-pasan. Karena bagi sebagian orang, merawat penampilan bukan hanya sekadar gaya hidup, melainkan sudah menjadi kebutuhan agar tetap percaya diri menjalani kehidupan sehari-hari.
“Karena itu sudah jadi kebutuhan pokok buat aku, kondisi kulit bisa berpengaruh banget sama mood aku sehari-hari. Jadi meskipun lagi hemat, aku tetap berusaha sisihkan uang buat skincare ataupun makeup yang affordable,” ungkap Fira, mahasiswi Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Malang. Pernyataan ini seolah menggambarkan alasan utama mengapa fast beauty tetap bertahan, ada sisi psikologis yang membuat masyarakat khususnya anak muda tetap mencari jalan agar bisa tampil menarik meski dengan biaya minimalis.
Selain faktor psikologis, media sosial juga semakin memperkuat adanya tren ini. Review jujur dari beauty influencer hingga tren “produk viral” di kalangan masyarakat membuat mereka tertarik untuk membeli dan mencoba langsung berbagai produk tersebut. Algoritma menampilkan berulang-ulang produk murah meriah yang diklaim “bagus banget”, sehingga menciptakan rasa penasaran sekaligus FOMO (fear of missing out). Akhirnya, meskipun harga kebutuhan pokok naik, konsumen masih menyisihkan sebagian uang untuk kecantikan karena merasa hal itu bagian dari identitas sosialnya.
Menariknya, pola konsumsi fast beauty di era inflasi ini memperlihatkan kompromi antara idealisme dan realitas. Jika sebelumnya banyak orang rela menabung untuk skincare high end, kini strategi berubah: yang penting hasil cepat dengan harga ramah di kantong. Pada akhirnya, fast beauty bukan sekadar tren kecantikan, melainkan refleksi bagaimana masyarakat beradaptasi dengan tekanan ekonomi.
Fenomena ini tampaknya tidak akan berhenti begitu saja. Para pemilik berbagai produk fast beauty semakin gencar merilis produk baru karena permintaan masyarakat yang tinggi. Selama inflasi terus membayangi dan daya beli masyarakat terbatas, produk kecantikan instan nan ekonomis akan terus dicari. Fast beauty, pada akhirnya, menjadi cermin di tengah sulitnya hidup, kebutuhan untuk merasa cantik dan percaya diri tetap menjadi ruang perlawanan kecil bagi banyak orang.
(Najla Shadzwina)
Post View : 247