Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141

Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com

Peran Visual Dalam Meningkatkan Nilai Jurnalistik Berita

Mengintip Lebih Dalam Tentang
Fotografi Jurnalistik (Adityawangsa)

Di samping berita yang sering kita baca, ada gambar yang saling melengkapi, tapi juga berbicara. Foto jurnalistik bukan sekadar visual, ia adalah saksi bisu di balik semua peristiwa yang terjadi setiap saat. Melalui program JurnaLearn Vol. 1, Divisi Litbang LPM MIMESIS berkolaborasi dengan Lensa Fokus FIB UB untuk memperkenalkan dunia jurnalistik, salah satunya melalui sesi fotografi jurnalistik bersama Rizky Dwi Putra. Acara ini diselenggarakan pada Sabtu (24 Mei) pukul 10.00 WIB di Ruang B 2.11 Gedung FIB UB dan diikuti oleh sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UB serta peserta umum yang antusias untuk belajar dan praktik secara langsung.

Foto jurnalistik mulai diperkenalkan pada media cetak saat surat kabar harian The Daily Graphic di New York menerbitkan gambar kebakaran hotel dan salon. Ini menjadi titik awal penggunaan gambar nyata sebagai pengganti sketsa dalam media. Dengan kehadiran foto dalam berita, cara penyampaian pesan menjadi lebih kuat dengan adanya dimensi visual, meski pada awalnya akses ke teknologi fotografi masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan era sekarang. Foto tidak hanya berperan sebagai pelengkap saja, melainkan sudah menjadi elemen utama dalam praktik jurnalistik.

Seiring dengan berkembangnya visual dalam dunia jurnalistik, peran foto menjadi sangat krusial sebagai media pendukung berita, terutama pada berbagai peristiwa yang terjadi secara spontan yang biasa disebut spot news. Di samping itu, hampir semua foto selalu berdampingan dengan keterangan berupa tulisan yang berfungsi sebagai konteks, menjelaskan isi gambar, serta memperkuat pemahaman pembaca terhadap peristiwa yang ditampilkan. Sebagai contoh, kasus kebakaran di Gunung Bromo pada beberapa bulan lalu disebabkan oleh ulah rombongan prewedding yang membawa flare sehingga menghanguskan sekitar 504 hektar lahan. Melalui peristiwa itu, peran keterangan pada foto menjadi sangat penting agar pembaca lebih paham terhadap makna visual yang ditampilkan.

Tidak seperti spot news yang penuh dengan kejutan, general news mencakup berbagai peristiwa yang sudah dijadwalkan sebelumnya, seperti konser, pemilu, workshop, atau acara seremonial lainnya. Dengan perencanaan yang matang, fotografer lebih leluasa dalam menyisipkan gaya serta sudut pandangnya sendiri sehingga hasil foto yang dihasilkan menjadi lebih baik. “Seperti halnya budaya pada ritual Kasada di Bromo, ketika fotografer mengetahui jadwal dan makna ide di balik acara Kasada, maka ia bisa menyesuaikan waktu dalam pengambilan foto pada momen-momen penting, seperti pembacaan doa, pembawaan sesajen, atau keramaian pengunjung. Melalui pemilihan objek yang kuat, nilai estetika pada gambar bisa memperkuat pesan jurnalistik,” ujar Rizki Dwi Putra, selaku pembicara pada acara JurnaLearn Vol. 1.

Dengan memahami karakteristik general news, fotografer jurnalistik dituntut tidak hanya sekadar hadir di lokasi, tetapi juga mampu merancang pendekatan visual yang informatif dan bermakna. Persiapan yang matang, pemahaman konteks budaya, serta kemampuan menyampaikan narasi melalui gambar dan caption menjadi kunci utama dalam menghasilkan karya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kaya secara isi. Pada akhirnya, fotografi jurnalistik bukan sekadar soal menangkap momen, tetapi tentang menyampaikan pesan yang jujur, faktual, dan menggugah melalui bahasa visual yang bertanggung jawab.

 

(Cleo Dewanti, M. Syaikhul Ma’arif Adityawangsa)

 

Post View : 430

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *