Sekretariatan Gedung AS Politeknik Negeri Malang (Polinema), Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65141
Telp Humas : 0812-8455-8810
Email : perspolinema@gmail.com


Sebagai mahasiswa tentu kita dihadapkan dengan berbagai tuntutan, seperti harus aktif, berpikir kritis, dan pastinya kontributif. Hal tersebut disebabkan karena mahasiswa memiliki peran penting bagi masa depan bangsa, sehingga tak heran jika banyak generasi milenial khususnya mahasiswa memiliki pola hidup dan mindset hustle culture. Tapi, apa sebenarnya hustle culture itu? Menurut Oates, W. dalam jurnal berjudul Confessions of a Workaholic: The Facts about Work Addiction tahun 1971, Hustle Culture merupakan sebuah gaya hidup yang populer dikalangan milenial.
Dimana seorang yang menganut gaya hidup ini menganggap bahwa dirinya akan sukses jika banyak bekerja tanpa mementingkan waktu istirahat. Mereka menganggap dirinya akan lebih cepat sukses jika semakin sibuk, dan mengasosiasikan istirahat sebagai sikap malas yang menjauhkan mereka dari kesuksesan. Lantas, apa yang menyebabkan budaya ini terus tumbuh dikalangan milenial?
Dilansir dari laman kreditpintar.com gaya hidup hustle sendiri sudah ada sejak tahun 1970 saat merebaknya perusahaan berbasis teknologi dan adanya internet, serta belakangan ini kembali meningkat sejak pandemi dan diberlakukannya work from home (WFH).
Tumbuhnya budaya hustle ini juga dapat disebabkan karena adanya standar pencapaian dan kesuksesan yang kurang masuk akal, seperti harus mengerjakan semua hal dengan sempurna meskipun harus mengorbankan waktu istirahat. Keadaan ini dipicu karena adanya perasaan takut tertinggal, dan pemikiran berlebih tentang sulitnya kompetisi memasuki dunia kerja nantinya. Sekilas keadaan tersebut terkesan keren, meskipun sebenarnya cukup mengkhawartikan, karena orang-orang hustle seringkali mengabaikan keseimbangan gaya hidup dan kesehatan diri sendiri. Terlepas dari sisi positif maupun negatif hustle culture ini memiliki dampak. Dampak dari hustle culture antara lain:
Kehilangan Work Life Balance
Work Life Balance adalah keseimbangan antara karir dan kehidupan pribadi. Memiliki pola hidup yang seimbang seperti meluangkan waktu bersama keluarga, pasangan, maupun teman dapat mengurangi tingkat stres akibat pekerjaan. Melakukan sosialisasi atau berinteraksi dengan lingkungan sekitar dapat mempengaruhi kebahagiaan seseorang.
Ancaman kesehatan
World Health Organization (WHO) dan International Labour Organitation (ILO) telah melakukan studi dan mengambil data dari 194 negara. Dalam studi tersebut didapatkan hasil bahwa, individu yang bekerja 55 jam atau lebih dalam seminggu bersisiko terkena stroke 35% lebih tinggi. Selain itu, risiko kematian akibat penyakit jantung isemik 17% lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang bekerja 35 – 40 jam per minggu. Aktivitas yang berlebihan akan memperburuk kualitas tidur yang berdampak pada penurunan fokus dan produktivitas saat bekerja atau berkuliah.
Burnout Syndrome
Menurut WHO, burnout adalah kondisi stres kronis akibat pekerjaan yang ditandai dengan rasa lelah, frustasi, dan sulit berkonsentrasi. Gejala burnout tidak terjadi pada semalam, melainkan dialami secara bertahap. Burnout disebabkan oleh. banyaknya tanggung jawab yang dipikul, lingkungan kantor yang buruk, serta kehilangan dukungan sosial.
Sebagai mahasiswa yang cerdas dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri sebaiknya kita dapat mengatur waktu sebaik mungkin tanpa mengesampingkan kesehatan. Terkadang memiliki ambisi dan motivasi tinggi untuk mencapai kesuksesan memang hal yang positif. Namun, hal yang terpenting adalah mampu menemukan keseimbangan dalam menjalani hidup.
(Alvira Dewi Septyan)